Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (24/4/2026), memperpanjang tren pelemahan sejak awal sesi.
Berdasarkan data Stockbit, IHSG jatuh ke level 7.152,85 atau turun 225,75 poin (-3,06%).
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai tekanan terhadap pasar saham masih dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait potensi gangguan di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak hingga menembus di atas USD100 per barel.
“Sehingga investor global melakukan aksi flight to safety atau cenderung risk averse, terutama terhadap negara yang merupakan net importir minyak,” ujar Myrdal.
Ia menjelaskan, lonjakan harga energi berpotensi memicu imported inflation yang dapat menekan stabilitas makroekonomi jika tidak diimbangi kebijakan fiskal yang tepat.
Meski demikian, Myrdal menilai kondisi ekonomi Indonesia sejauh ini masih relatif solid dalam menghadapi tekanan tersebut.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan keputusan MSCI Inc. terkait status investasi Indonesia.
Langkah perbaikan yang dilakukan Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, termasuk peningkatan porsi free float saham, belum sepenuhnya menghilangkan sikap hati-hati investor.
“Investor masih wait and see, sehingga memilih mengambil posisi aman terlebih dahulu,” kata Myrdal.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai koreksi IHSG saat ini masih tergolong wajar secara teknikal.
Ia menyebut indeks berpotensi menguji area wave (ii) atau wave (a) dalam pola pergerakan jangka pendek.
“RSI menunjukkan sinyal positif didukung kenaikan volume, namun stochastic K-D masih memberikan sinyal negatif,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, pelemahan rupiah juga turut memperburuk sentimen. Nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 105 poin ke kisaran Rp17.280 per dolar AS, sementara harga minyak Brent melonjak ke sekitar USD106 per barel.
Kondisi ini mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Meski IHSG tengah bergejolak, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis indeks dapat menembus level 10.000 pada tahun ini.
Menurutnya, pergerakan IHSG sangat bergantung pada fundamental ekonomi nasional. Selama pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, pasar saham akan mengikuti.
“Kalau ekonominya bagus, nanti naik cepat. IHSG akan menyesuaikan dengan fundamental ekonominya,” tegas Purbaya.
Pemerintah pun saat ini memfokuskan kebijakan pada penguatan daya tahan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, ketimbang merespons pergerakan pasar secara jangka pendek.

