Jakarta (tutur.co.id) — Ketegangan di tubuh Tim Pembela Ulama dan Aktivis pelan-pelan berubah jadi bara. Awalnya hanya bisik-bisik, kini terdengar keras. Pakar telematika Roy Suryo buka suara, blak-blakan, tanpa banyak basa-basi. Ia menyebut ada pembersihan di struktur pengurus, dilakukan langsung oleh ketua TPUA, Eggi Sudjana.
Ceritanya bermula dari langkah mendadak Eggi yang memberhentikan hampir seluruh pengurus teras. Nama-nama lama yang selama ini dikenal sebagai wajah perjuangan TPUA satu per satu tersingkir. Bagi Roy, langkah itu bukan sekadar urusan administrasi. Ada pertanyaan besar yang menggelayut soal arah organisasi, apalagi setelah mencuat pertemuan kontroversial dengan pihak yang disebut-sebut terafiliasi sebagai relawan Jokowi.
Roy mengaku menerima informasi langsung soal pencopotan itu. Menurutnya, pemecatan dilakukan tak lama setelah para pengurus tersebut menyatakan tidak tahu-menahu mengenai agenda pertemuan Eggi pada 8 Januari lalu di kediaman Jokowi, Solo, Jawa Tengah. Di titik ini, cerita mulai terasa janggal.
“Beredar hari ini ya surat dari Eggi Sujana orang-orang yang tadi saya sebut dengan segala hormat Pak Rizal Fadilah, Pak Azamkan itu sudah bukan lagi pengurus TPUA katanya,” ujar Roy Suryo dalam siniar YouTube Forum Keadilan TV, Selasa 13 Januari 2026.
Roy menyebut alasan yang disampaikan Eggi makin sulit dicerna. Pertemuan itu, kata Eggi, disebut sebagai agenda internal dan kelanjutan dari agenda lama. Bagi Roy, penjelasan itu justru menambah tanda tanya. “Kok terlalu lama, masa lanjutannya hampir setahun?” sindirnya.
Merasa ada yang tidak beres, Roy tak tinggal diam. Ia mengaku sudah menghubungi langsung Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Pesannya singkat, tapi nadanya tajam. Roy meminta kejelasan, hitam di atas putih, soal posisi mereka sekarang.
“Saya tulis surat ke mereka lewat WhatssApp (WA), judulnya Mereka itu masih Pejuang atau sudah Pecundang? Saya kirim langsung ke nomor Pak Eggi dan Damai Hari Lubis,” ungkap Roy.
Di luar lingkaran internal TPUA, Roy menyadari publik ikut mengawasi. Perubahan sikap yang tiba-tiba memantik berbagai spekulasi. Isu berkembang liar, berkelindan dengan kecurigaan lama yang tak pernah benar-benar padam.
Roy tidak menutup mata terhadap desas-desus yang beredar. Ia menyebut ada rumor yang ramai dibicarakan di media sosial, soal motif di balik manuver Eggi dan Damai. Kata-kata seperti cair, gepokan, hingga koper mulai disematkan, entah sebagai sindiran atau tudingan.
“Berpraduga baik saja, tapi waktunya makin habis kan tinggal 4 hari lagi untuk mencapai deadline hari Jumat sebagaimana yang dia janjikan ya,” kata Roy.
Baginya, waktu sudah berjalan. Janji klarifikasi yang disampaikan sebelumnya tinggal hitungan hari. Jika tak segera dipenuhi, Roy menilai kepercayaan para aktivis bisa runtuh satu per satu. “Jangan salahkan orang kalau muncul istilah cair-cair. Kita lihat saja hari Jumat nanti,” kata Roy.

