Jakarta (tutur.co.id) — Ketika dunia masih sibuk menghitung dampak perang tarif dan konflik geopolitik, Bank Dunia justru mengirim sinyal optimisme. Lembaga keuangan global yang berbasis di Washington itu resmi merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2026. Ekonomi global dinilai terbukti “tahan banting”, bahkan di tengah eskalasi ketegangan perdagangan yang disebut-sebut sebagai yang paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
Dalam laporan terbarunya yang dikutip Bloomberg, Rabu (14/1/2026), Bank Dunia memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) riil global akan tumbuh 2,6% pada 2026. Angka ini melonjak dari proyeksi Juni lalu yang hanya 2,3%. Revisi ini bukan sekadar koreksi teknis, melainkan cerminan perubahan cara pandang terhadap daya tahan ekonomi pasca-pandemi Covid-19.
“Pertumbuhan global mulai berada dalam rentang yang stabil. Ada ketahanan yang luar biasa, meskipun pertumbuhan ini belum menunjukkan akselerasi yang tajam,” ujar Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, Ayhan Kose.
Namun, di balik narasi stabilitas itu, tersimpan cerita yang lebih kompleks.
Efek Trump dan Belanja Dini
Salah satu faktor kunci yang mengangkat proyeksi adalah perilaku “antisipatif” pelaku ekonomi. Sepanjang 2025, Bank Dunia mencatat lonjakan perdagangan global yang tidak terduga. Perusahaan dan rumah tangga di berbagai negara memilih mempercepat pembelian barang sebelum tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi diberlakukan.
Amerika Serikat sendiri menjadi motor utama. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam direvisi naik menjadi 2,2%, jauh di atas perkiraan sebelumnya sebesar 1,6%. Dorongan belanja, ditambah peningkatan pengeluaran di sektor intelijen dan keamanan, ikut menopang pertumbuhan ekonomi global hingga mencapai 2,7% pada 2025.
Bagi sebagian analis, fenomena ini menunjukkan paradoks ekonomi global hari ini: kebijakan proteksionisme yang dirancang untuk menekan perdagangan justru memicu akselerasi jangka pendek karena pelaku pasar berlomba-lomba menghindari risiko tarif.
China, Inflasi, dan Minyak yang Melunak
Dari Asia, China kembali menjadi variabel penentu. Bank Dunia merevisi naik pertumbuhan ekonomi China menjadi 4,9% pada 2025 dan 4,4% pada 2026. Angka ini memberi napas lega bagi negara-negara berkembang yang masih sangat bergantung pada permintaan Negeri Tirai Bambu.
Sementara itu, tekanan harga diperkirakan mereda. Inflasi global pada 2026 diproyeksikan turun ke 2,6%, seiring melunaknya harga energi. Harga minyak mentah Brent bahkan diprediksi turun ke US$ 60 per barel, dari rata-rata US$ 69 pada 2025.
Bagi konsumen, angka-angka ini menjanjikan biaya hidup yang lebih terkendali. Namun bagi negara produsen komoditas, penurunan harga energi bisa berarti menyusutnya penerimaan negara dan tekanan baru pada anggaran publik.
Risiko yang Masih Mengintai
Optimisme Bank Dunia disertai peringatan tegas. Ketegangan perdagangan global dinilai belum benar-benar mereda. Tarif yang lebih tinggi berpotensi mengalihkan arus ekspor ke negara ketiga. Dalam skenario terburuk, produsen domestik di negara tujuan ekspor baru akan menuntut perlindungan serupa, menciptakan efek domino proteksionisme.
Di luar itu, tantangan terbesar justru bersifat demografis dan sosial. Dalam satu dekade ke depan, sekitar 1,2 miliar anak muda di negara berkembang akan memasuki usia kerja. Tanpa penciptaan lapangan kerja yang masif, bonus demografi bisa berubah menjadi beban sosial.
Di titik inilah wajah humanis dari angka-angka ekonomi muncul. Di balik statistik pertumbuhan, ada jutaan anak muda yang berharap pada pekerjaan layak, upah yang cukup, dan masa depan yang lebih pasti.
Bertahan, tapi Sampai Kapan?
Sejak 2023, ekonomi global bertubi-tubi diterpa krisis: lonjakan harga energi, inflasi tinggi yang memaksa bank sentral menaikkan suku bunga, hingga konflik geopolitik yang mengganggu jalur logistik laut. Namun konsumsi rumah tangga tetap bertahan, pasar tenaga kerja di negara maju relatif stabil, dan sektor swasta bergerak cepat beradaptasi.
Alih-alih melambat, banyak perusahaan memilih mendiversifikasi rantai pasok dan mempercepat digitalisasi demi menekan biaya. Strategi bertahan hidup ini sementara terbukti efektif.
Pertanyaannya, apakah ketahanan ini bersifat struktural atau sekadar reaksi jangka pendek?
Ketergantungan pada pertumbuhan China, stabilitas harga energi, dan arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat akan menjadi penentu. Bank Dunia boleh jadi optimistis, tetapi sejarah ekonomi global mengajarkan satu hal: resiliensi selalu diuji, dan tidak pernah datang tanpa batas.

