Paris (Tutur.co.id) – Pertemuan antara Paris Saint-Germain dan Liverpool pada perempat final Liga Champions UEFA tengah pekan ini diprediksi berlangsung panas. Namun, menjelang duel tersebut, keraguan mulai mengemuka terhadap kemampuan Liverpool untuk memberikan perlawanan yang seimbang.
Sorotan utama tertuju pada performa inkonsisten The Reds dalam beberapa laga terakhir. Kekalahan telak 0-4 dari Manchester City di ajang Piala FA menjadi titik kritis yang memicu banyak pertanyaan. Dalam pertandingan itu, Mohamed Salah juga gagal mengeksekusi penalti, menambah tekanan yang kini membayangi tim.
Sebaliknya, PSG justru datang dengan kepercayaan diri tinggi. Tim asuhan Luis Enrique menunjukkan performa konsisten di berbagai kompetisi, menjadikan mereka sebagai salah satu favorit kuat untuk melangkah jauh di Liga Champions musim ini.
Pandangan tajam datang dari legenda Prancis, Christophe Dugarry. Ia secara terbuka meragukan peluang Liverpool dan menilai performa mereka saat ini jauh dari meyakinkan. Menurut Dugarry, secara teknis Liverpool memang memiliki pemain berkualitas, tetapi permainan mereka dinilai lambat dan kurang intens.
Ia bahkan menilai perbandingan dengan PSG saat ini tidak seimbang. Dugarry menyoroti intensitas, kekuatan mental, serta perkembangan permainan PSG yang dinilai jauh lebih matang. Dalam pandangannya, perbedaan tersebut berpotensi menghasilkan pertandingan yang timpang.
Komentarnya semakin tajam dengan mengaitkan momentum Liverpool yang tengah menurun, terutama setelah kebobolan empat gol dari Manchester City. Ia menegaskan bahwa pada paruh kedua musim, faktor momentum menjadi penentu utama.
Secara historis, pertemuan kedua tim musim lalu juga menyisakan kenangan pahit bagi Liverpool. Mereka tersingkir secara dramatis di babak 16 besar setelah kalah adu penalti. Saat itu, Liverpool sempat unggul 1-0 di leg pertama, namun PSG membalas dengan skor identik di Anfield sebelum memastikan kelolosan lewat drama tos-tosan.
Meski demikian, perjalanan Liverpool musim ini di Liga Champions sebenarnya cukup solid. Mereka finis di posisi ketiga fase liga dengan enam kemenangan dari delapan pertandingan, sehingga langsung lolos ke babak 16 besar. Di fase gugur, tim asuhan Arne Slot sempat terpeleset saat kalah 0-1 dari Galatasaray, namun bangkit di leg kedua dengan kemenangan meyakinkan 4-0 berkat gol dari Dominik Szoboszlai, Hugo Ekitike, Ryan Gravenberch, dan Mohamed Salah.
Di sisi lain, PSG tampil jauh lebih konsisten. Mereka melaju ke fase gugur melalui jalur play-off dan kini memimpin klasemen Ligue 1. Dominasi juga terlihat saat mereka menyingkirkan Chelsea di babak 16 besar dengan agregat mencolok 8-2—termasuk kemenangan 3-0 di Stamford Bridge.
Dengan kondisi terkini, PSG jelas berada di atas angin. Sementara itu, Liverpool menghadapi tuntutan untuk segera menemukan kembali performa terbaiknya. Jika tidak, prediksi keras tentang potensi “pembantaian” bisa saja menjadi kenyataan di panggung tertinggi sepak bola Eropa.

