London (Tutur.co.id) – Di bawah sorotan lampu Ewood Park yang dingin pada Sabtu (18/4/2026) dini hari WIB, Frank Lampard berdiri dengan wajah penuh emosi. Hasil imbang 1-1 melawan Blackburn Rovers bukan sekadar angka di papan skor. Namun penanda kebangkitan panjang Coventry City kembali ke panggung Premier League setelah absen selama 25 tahun.
“Malam ini sangat spesial bagi klub ini. Pencapaian ini lebih besar dari kita semua,” ujar Lampard, seperti dikutip dari ESPN di Jakarta. Ucapannya menggambarkan betapa besar arti momen tersebut, bukan hanya bagi tim, tetapi juga bagi sejarah panjang klub berjuluk The Sky Blues.
Keberhasilan ini mengakhiri penantian seperempat abad sejak Coventry terakhir kali tampil di kasta tertinggi pada 2001, setelah sebelumnya menjadi salah satu pendiri Liga Premier. Perjalanan mereka tak selalu mulus—bahkan sempat terpuruk hingga divisi keempat pada 2017. Namun musim ini menjadi bukti kebangkitan yang nyata.
Di bawah arahan Lampard, Coventry tampil konsisten dan dominan sepanjang musim Championship. Mantan legenda Chelsea itu berhasil menanamkan mentalitas juara dalam skuad yang sebelumnya terseok-seok. Hasilnya, promosi otomatis berhasil diamankan saat kompetisi masih menyisakan tiga laga, dengan keunggulan 11 poin atas pesaing terdekat, Ipswich Town.
Momen penentuan datang secara dramatis. Saat pertandingan tampak akan berakhir dengan kekalahan, Bobby Thomas muncul sebagai pahlawan melalui sundulan pada menit ke-84 yang menyamakan kedudukan. Gol itu sontak memicu ledakan emosi, baik di lapangan maupun di tribun tandang yang dipenuhi sekitar 7.000 pendukung setia Coventry.
Lampard tidak lupa memberikan penghormatan kepada sosok yang turut membangun fondasi tim, Mark Robins. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif yang panjang dan penuh dedikasi.
“Mark Robins layak mendapat apresiasi. Tapi ini adalah pencapaian besar dari semua orang di klub,” katanya.
Lebih dari sekadar keberhasilan teknis, momen ini juga sarat emosi. Lampard mengaku tersentuh bisa merayakan bersama para suporter yang telah setia mendukung selama puluhan tahun, melewati masa-masa sulit hingga akhirnya kembali ke puncak.
Kini, dengan tiket kembali ke Premier League di tangan, Lampard kembali menempatkan dirinya di jajaran pelatih elite Inggris. Setelah pengalaman bersama Chelsea dan Everton, ia menunjukkan kapasitasnya dengan membangkitkan “raksasa tidur” dari West Midlands, membawa Coventry City kembali ke tempat yang telah lama mereka rindukan.

