Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Nasional»Prof. Didik: Saat Media Dikumpulkan Penguasa, Demokrasi Mulai Kehilangan Penjaga

Prof. Didik: Saat Media Dikumpulkan Penguasa, Demokrasi Mulai Kehilangan Penjaga

Nasional Adi P08 Mei 2026 / 01:01 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Diskusi di ruang redaksi Majalah TEMPO, beberapa saat setelah jurnalisnya diteror paket Kepala Babi, Maret 2025. (Foto: Tutur/AdiP)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini mengingatkan bahaya ketika media perlahan bergeser dari pengawas kekuasaan menjadi alat legitimasi pemerintah. Dalam pandangannya, media yang tidak lagi netral akan kehilangan fungsi paling mendasar dalam demokrasi: menerangi ruang publik secara sehat.

Menurut Didik, semakin modern sebuah negara dan semakin terdidik masyarakatnya, semakin besar tuntutan agar media berdiri independen. Media, kata dia, seharusnya menjadi ruang publik yang terbuka bagi dialog rasional, pertukaran gagasan, dan kritik terhadap kekuasaan—bukan corong partai politik, penguasa, ataupun kelompok kepentingan tertentu.

“Media harus menjadi public sphere yang mencerahkan, bukan alat propaganda kekuasaan,” ujar Didik dalam pernyataan yang diterima redaksi Tutur.co.id, Kamis (7/5/2026).

Ia menilai, ketika media berubah menjadi instrumen propaganda, maka fungsi deliberasi demokrasi ikut lumpuh. Media tidak lagi menjadi arena perdebatan sehat antarwarga negara, melainkan menyerupai kepanjangan tangan kementerian pemerintah. Dalam situasi seperti itu, kritik dipersempit, sementara pencitraan diperluas.

Didik menegaskan, posisi paling terhormat bagi media adalah sebagai pilar keempat demokrasi. Dalam fungsi itu, media wajib melakukan pengawasan terhadap penyimpangan kekuasaan, korupsi, dan penyalahgunaan wewenang. Bahkan, kata dia, kritik terhadap kebijakan pemerintah justru diperlukan agar kebijakan menjadi lebih legitimate di mata publik.

Rektor Universitas Paramadina dan Ekonom Senior INDEF Prof. Didik J Rachbini. (Foto:Tutur/Dok. Universitas Paramadina)

“Kalau media menutup-nutupi penyimpangan, maka dia berhenti menjadi watchdog,” katanya.

Ia mencontohkan kerja investigasi korupsi sebagai bentuk ideal keberanian media. Sebab korupsi, menurutnya, merupakan kejahatan luar biasa yang tidak mungkin dibongkar tanpa pers yang independen dan kritis. Karena itu, media tidak boleh dijinakkan hanya demi menjaga citra kekuasaan.

Didik juga menyoroti bahaya baru di era teknologi digital. Dengan dukungan big data dan teknologi informasi, media bisa berubah menjadi mesin framing yang membentuk persepsi publik secara artifisial. Informasi tidak lagi disusun untuk menjelaskan realitas, tetapi diarahkan untuk membangun citra politik tertentu.

Baca Juga  IFG Progress: APBN Tetap Kredibel Meski Defisit Rp240 Triliun, Jadi Peredam Gejolak Global

Dalam ilmu komunikasi politik, fenomena itu dikenal sebagai manufacturing consent—situasi ketika opini publik dibentuk secara sistematis agar menerima narasi penguasa tanpa kritik berarti.

“Media bisa dipakai memanipulasi opini publik jika kehilangan netralitasnya,” ujar Didik.

Karena itu, ia mengkritik kecenderungan pemerintah yang ingin mengumpulkan, mengorganisasikan, atau memberi arahan terhadap media-media yang sudah berkembang. Langkah semacam itu dinilai berbahaya karena berpotensi menghilangkan fungsi kontrol sosial yang melekat pada pers.

Jika media terlalu dekat dengan kekuasaan, kata Didik, maka demokrasi kehilangan salah satu penjaganya yang paling penting. Yang tersisa hanyalah panggung pencitraan, sementara publik perlahan kehilangan akses pada kebenaran yang kritis dan independen.

Didik J Rachbini headline New Media Paramadina Pemerintah Penguasa pers tutur
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKlarifikasi Bakom RI Soal Geger ‘Amankan’ Homeless Media
Next Article Alonso Cukup Puas dengan Performa Aston Martin di GP Miami

Berita Lainnya

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026

18 Juli 2026 / 09:19 WIB

Ini Lokasi SIM Keliling Jakarta Akhir Pekan 18 Juli 2026

18 Juli 2026 / 08:57 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Dirut BEI Mundur, OJK: Bursa Tidak Terganggu

Gusti Tetiro30 Januari 2026 / 14:44 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.