Jakarta (tutur.co.id) — Lembaga riset IFG Progress menilai profil Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga Maret 2026 tetap kokoh dan kredibel, meski mencatatkan defisit sebesar Rp240 triliun. Lonjakan ini dipandang sebagai konsekuensi dari peran APBN sebagai peredam guncangan (shock absorber) di tengah ketidakpastian global.
Dalam laporan Macroeconomic Monitor April 2026, IFG Progress menyebut kebijakan fiskal pemerintah kini lebih ekspansif dibandingkan tahun sebelumnya, sebagai respons untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
“Meskipun lebih besar daripada posisi awal tahun yang terlihat sebelumnya, defisit tetap berada dalam batas atas fiskal yang ditetapkan undang-undang Indonesia (3% terhadap PDB), yang menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal masih bijaksana meskipun sikap anggaran menjadi lebih mendukung,” tulis IFG Progress dalam risetnya.
Hingga kuartal I-2026, realisasi penerimaan negara mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% secara tahunan (yoy), didorong oleh basis perpajakan yang lebih kuat. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp112,1 triliun atau setara 24,4% dari target tahunan.
Di sisi belanja, pemerintah mempercepat realisasi anggaran dengan pertumbuhan belanja negara mencapai 31,4% yoy pada kuartal pertama. Strategi ini mencerminkan pendekatan front-loading untuk menjaga momentum ekonomi dan mendukung program prioritas.
Dampaknya, defisit APBN hingga Maret 2026 melebar menjadi 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp104 triliun atau 0,43% terhadap PDB.
Secara keseluruhan, IFG Progress menilai kebijakan fiskal yang lebih aktif berhasil menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.
“Secara praktis, profil kuartal pertama 2026 menunjukkan anggaran yang tetap kredibel dan terkendali, sekaligus memberikan dorongan fiskal jangka pendek yang lebih kuat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” tegas IFG Progress.

