Balikpapan (tutur.co.id) – Presiden Prabowo Subianto sangat prihatin praktik mark up dan penipuan masih terjadi. Hingga saat ini. Prabowo mengaku malu praktik yang merugikan rakyat masih ada di zaman digital yang serba canggih ini.
“Malu kita dengan bangsa lain, malu terutama dengan rakyat kita. Praktik-praktik mark up, penipuan. Mark up itu adalah penipuan dan pencurian, mencuri di siang bolong,” ujar Prabowo saat meresmikan Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).
Menurut Presiden Prabowo, perkembangan teknologi membuat praktik mark up semakin mudah terungkap, sehingga upaya mempertahankan pola-pola lama dinilai keliru. Prabowo menegaskan negara butuh manajemen terbaik yang mampu mengelola perusahaan secara profesional dan bertanggung jawab.
“Kalau ada pejabat yang ingin melaksanakan praktik-praktik lama, saya kira sangat keliru, Kita prihatin. Saya tidak tahu berapa direksi Pertamina yang sudah masuk penjara, saya tidak tahu,” kata Presiden Prabowo.
Seperti diketahui, Presiden meresmikan Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit (RU) V Balikpapan yang merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia. Prabowo menyebut peresmian RDMP terakhir dilakukan pada 1994 atau 32 tahun lalu.
Prabowo berharap peresmian RDMP dapat mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Apalagi Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang melimpah, termasuk sumber energi seperti kelapa sawit untuk biodiesel, geotermal, tenaga surya hingga tenaga air.
“Kita tidak boleh tergantung energi kita dari luar. Kita ingin merdeka dan kita mampu. Kita miliki semua, diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa,” kata Presiden.

