Jakarta (Tutur.co.id) – Kesehatan otak ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan atau aktivitas fisik, tetapi juga sangat berkaitan dengan kualitas tidur. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola tidur seseorang ternyata bisa digunakan untuk memprediksi usia otak dan risiko terkena demensia di masa depan.
Dalam studi yang dipublikasikan oleh tim peneliti neurologi, ditemukan bahwa perubahan pola tidur seperti sering terbangun di malam hari atau kurang tidur dapat mempercepat penuaan otak. Hal ini dikenal sebagai konsep “brain age”, yaitu kondisi di mana usia bilogis otak lebih tua dibanding usia sebenernya.
Menurut laporan dari News-Medical, pola tidur yang tidak stabil dapat mengganggu proses pembersihan racun di otak, termasuk protein berbahaya yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
Penelitian ini juga menemukan bahwa orang dengan kualitas tidur buruk cenderung memiliki fungsi kognitif yang lebih rendah, seperti daya ingat dan kemampuan berpikir yang menurun. Dalam jangka panjangg, kondisi ini bisa meningkatkan risiko gangguan neurodegeneratif.
Para peneliti menjelaskan bahwa saat tidur, otak menjalankan proses penting untuk “membersihkan diri” melalui system glymphatic. Jika tidur terganggu, proses ini tidak berjalan optimal, sehingga zat-zat berbahaya dapat menumpuk di dalam otak.
Menariknya, studi ini membuka peluang baru dalam dunia medis, di mana pola tidur bisa menjadi indicator awal untuk mendeteksi risiko demensia. Artinya, gangguan tidur bukan lagi sekedar masalah ringan, tetapi bisa menjadi sinyal penting bagi kesehatan otak.
Karena itu, menjaga kualitas tidur menjadi hal yang sangat penting. Tidur cukup selama 7-9 jam per hari, menjaga konsistensi waktu tidur, serta menghindari paparan layer sebelum tidur menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga Kesehatan otak dalam jangka Panjang.

