Jakarta (Tutur.co.id) – Fenomena tahunan Pink Moon akan terlihat pada bulan April nanti. Meski populer dengan sebutan Pink Moon tak lantas bulan akan benar-benar berwarna pink atau merah muda, melainkan tetap akan seperti bulan purnama biasa.
Lantas kenapa disebut dengan Pink Moon? Istilah Pink Moon ini lebih berkaitan dengan tradisi perubahan musim daripada fenomena visual di langit. Istilah ini berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara (seperti suku Algonquin) yang memberikan nama pada setiap bulan purnama sepanjang tahun untuk menandai perubahan musim dan siklus alam.
Menurut situs astronomi resmi seperti TimeandDate, Pink Moon sendiri adalah bagian dari siklus Bulan Purnama yang terjadi ketika posisi bulan berlawanan dengan Matahari, sehingga seluruh permukaannya tampak lebih terang dari bumi.
Dalam kondisi tertentu, bulan bisa tampak kekuningan atau kemerahan, terutama saat berada dekat horizon. Hal ini terjadi karena efek atmosfer bumi yang membelokkan cahaya, bukan karena fenomena khusus pada bulan itu sendiri.
Selain itu, Pink Moon juga memiliki makna budaya dan religius. Dalam tradisi Barat, bulan ini sering disebut sebagai Paschal Moon, yaitu bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi yang digunakan untuk menentukan tanggal Paskah.
Ada pula yang menyebutnya dengan Sprouting Grass Moon karena menandai tumbunya rumput-rumput baru di musim semi. Juga disebut Egg Moon karena merujuk pada musim bertelur banyak jenis burung. Lalu juga biasa disebut Fish Mooon karena menandai waktu ketika ikan-ikan mulai berenang ke hulu sungai untuk bertelur.
Berdasarkan data astronomi, puncak fenomena Pink Moon di tahun 2026 diperkirakan akan terjadi pada
Kamis 2 April 2026 pada pukul 09.11 WIB. Meski puncak pada pagi hari tanggal 2 April, namun masyarakat tetap dapat menikmati keindahan bulan ini sejak malam sebelumnya yakni pada Rabu malam 1 April 2026.

