Jakarta (tutur.co.id) – Tim riset Samuel Sekuritas merekomendasikan investor mulai melakukan rotasi portofolio ke saham-saham perbankan yang dinilai masih undervalued serta emiten berorientasi ekspor dengan pendapatan berbasis dolar AS, terutama dari sektor logam dan batu bara. Strategi tersebut didasarkan pada pandangan bahwa fase terburuk koreksi pasar saham Indonesia kemungkinan telah berlalu.
Dalam riset bertajuk Worst is Over, Samuel Sekuritas menilai sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan sentimen pasar domestik, mulai dari penguatan nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga yang lebih agresif dari Bank Indonesia (BI), hingga dukungan kebijakan pemerintah terhadap sektor pertambangan dan aksi korporasi BUMN.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 412,89 poin atau 7,38% dalam sepekan hingga kembali menembus level psikologis 6.000. Penguatan indeks terutama ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), seperti BBCA yang naik 16,75% dan BMRI yang menguat 9,38%.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah saham unggulan lainnya, antara lain SMMA, DSSA, BREN, BBRI, BRPT, BBNI, TPIA, dan MORA.
Tim riset Samuel Sekuritas yang dipimpin Prasetya Gunadi menilai kebijakan pertambangan yang lebih ramah terhadap dunia usaha menjadi salah satu katalis positif bagi sektor komoditas. Kebijakan tersebut mencakup tidak adanya kenaikan royalti, penerapan skema gross split, serta keberadaan mekanisme pemasok tunggal yang dinilai mendukung keberlanjutan industri.
Di sektor komoditas, Samuel Sekuritas menempatkan saham logam dan batu bara sebagai pilihan utama. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Timah Tbk (TINS) menjadi emiten yang direkomendasikan.
ANTM dinilai menarik karena memiliki eksposur terhadap kenaikan harga emas sekaligus berpotensi kembali masuk ke indeks MSCI pada Agustus 2026. Sementara itu, AMMN dianggap memiliki prospek kuat berkat pendapatan berbasis dolar AS dari bisnis tembaga dan emas, terutama setelah tekanan akibat keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI mulai mereda.
BUMI juga dinilai memiliki daya tarik karena sebagian besar pendapatannya berasal dari ekspor batu bara yang berbasis dolar AS. Namun, Samuel Sekuritas mengingatkan bahwa implementasi kebijakan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) hingga akhir 2026 tetap menjadi faktor yang perlu dicermati investor.
Di sektor perbankan, Samuel Sekuritas menjadikan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai pilihan utama. Bank pelat merah tersebut dinilai memiliki kualitas aset yang kuat serta potensi dividend yield yang menarik, mencapai sekitar 9%.
Selain BMRI, Samuel Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Samuel Sekuritas juga mencatat bahwa kondisi pasar domestik mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Salah satu indikatornya adalah penguatan rupiah yang sebelumnya sempat melemah hingga menembus Rp18.200 per dolar AS sebelum kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.
Penguatan rupiah tersebut didukung oleh langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin dalam satu bulan, termasuk kenaikan di luar jadwal sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026.
Selain faktor moneter, Samuel Sekuritas menilai kebijakan sektor pertambangan yang dijalankan Danantara berpotensi meningkatkan aliran devisa ke dalam negeri melalui pengawasan terhadap praktik under invoicing dan transfer pricing.
Dari sisi fiskal, efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rasionalisasi program koperasi dinilai dapat membantu menjaga stabilitas fiskal sekaligus memperkuat sentimen terhadap rupiah.
Sentimen positif lainnya datang dari kembalinya arus dana asing ke pasar saham Indonesia. Pada 12 Juni 2026, investor asing mencatatkan net foreign inflow sebesar Rp287 miliar. Angka tersebut menjadi aliran dana masuk pertama sejak 20 Mei 2026.
Meski demikian, pasar masih menantikan sejumlah agenda penting dalam waktu dekat, termasuk hasil Global Market Accessibility Review MSCI pada 18 Juni dan rebalancing indeks FTSE pada 22 Juni 2026.
Samuel Sekuritas memperkirakan Indonesia akan tetap mempertahankan status sebagai emerging market dan tidak masuk dalam daftar pemantauan MSCI. Adapun pada tinjauan MSCI Agustus 2026, saham ANTM, EMAS, dan BUMI dinilai memiliki peluang untuk kembali masuk ke dalam indeks global tersebut.
Dengan kombinasi penguatan rupiah, stabilisasi kebijakan moneter, dan mulai masuknya kembali dana asing, Samuel Sekuritas menilai pasar saham Indonesia berpotensi memasuki fase pemulihan yang lebih berkelanjutan pada semester II-2026.

