Jakarta (tutur.co.id) – Konferensi Transitioning Away from Fossil Fuels (TAFF) pertama di Santa Marta, Kolombia yang berlangsung 24-29 April 2026 berhasil menyepakati pembentukan coalition of the willing untuk menghentikan secara bertahap penambangan dan produksi batu bara, minyak, serta gas.
Hasil ini akan menjadi masukan penting bagi COP 31 di Turki pada November 2026.
Iqbal Damanik, Manager Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia menilai kesepakatan ini dapat membantu Indonesia memperoleh dukungan global.
“Konferensi ini membuka peluang realisasi inisiatif tansisi energi seperti pengembangan PLTS 100 GW, pensiun dini PLTU, serta penghentian pembangunan PLTU baru,”ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Senin, 4 Mei 2025.
Namun, partisipasi aktif Indonesia dalam proses lanjutan sangat diperlukan. Konferensi TAFF menghasilkan tiga alur kerja, peta jalan transisi, arsitektur keuangan, serta penyelarasan produsen-konsumen.
Peneliti ICEL, Rabin, menilai alur kedua sangat relevan bagi Indonesia karena membahas hambatan pendanaan dan beban fiskal. Alur ini didukung peluncuran Science Panel for the Global Energy Transition (SPGET) yang memberikan dukungan teknis bagi negara peserta.
Saat ini masih terdapat inkonsistensi antara komitmen transisi energi dengan kebijakan nasional. RUPTL 2025-2034 justru menambah kapasitas pembangkit gas hingga 10,3 GW, sementara PLTU industri masih akan bertambah 25,9 GW hingga 2026.
Kebijakan ini dinilai akan mendorong Indonesia pada kondisi fossil lock-in yang menyulitkan transisi energi ke depan.
Para peneliti menegaskan bahwa hasil konferensi TAFF harus menjadi dasar peta jalan transisi yang komprehensif. Transisi energi tidak bisa lagi sekadar mengganti fosil dengan terbarukan, tetapi harus mencakup keadilan sosial, perlindungan ekosistem, dan transformasi sistem ekonomi.
Keterlibatan aktif Indonesia menuju konferensi kedua di Tuvalu 2027 menjadi langkah krusial.

