Jakarta (tutur.co.id) — Sri Paus Leo XIV melalui ensiklik pertamanya bertajuk Magnifica Humanitas menyoroti pentingnya menjaga martabat manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dokumen tersebut dinilai menjadi peringatan global agar transformasi teknologi tidak mengorbankan nilai kemanusiaan.
Ensiklik yang diperkenalkan di Vatikan pada 25 Mei 2026 itu mendapat perhatian luas dari kalangan akademisi, pemimpin gereja, hingga pelaku industri teknologi global. Salah satu sorotan datang dari Profesor Anna Rowlands, teolog dari Durham University yang menilai dokumen tersebut sebagai kontribusi penting dalam merespons dampak sosial dan ekonomi AI.
Dalam wawancara dengan Vatican News, Rowlands menyebut perkembangan AI kini telah memengaruhi dunia kerja, tenaga kerja global, migrasi, hingga dinamika ekonomi dan politik internasional.
“Tidak ada waktu menunggu hingga besok untuk mulai memikirkan isu-isu ini, karena dampaknya terhadap pekerjaan, masyarakat, dan konflik global sudah terjadi sekarang,” ujarnya.
Ensiklik Magnifica Humanitas ditandatangani Paus Leo XIV pada 15 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan 135 tahun ensiklik Rerum Novarum yang diterbitkan Paus Leo XIII dan dikenal sebagai tonggak ajaran sosial Gereja Katolik mengenai ekonomi dan ketenagakerjaan.
Peluncuran dokumen tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh penting, antara lain Víctor Manuel Fernández, Michael Czerny, serta Christopher Olah dari perusahaan AI Anthropic.
Rowlands menilai salah satu pesan utama ensiklik tersebut adalah pentingnya memastikan diskusi mengenai AI tidak hanya didominasi kepentingan bisnis dan keuntungan ekonomi semata.
Menurutnya, kelompok masyarakat paling rentan justru harus menjadi pihak pertama yang didengar dalam penyusunan tata kelola AI global, termasuk pekerja, masyarakat miskin, dan kelompok yang terdampak otomatisasi teknologi.
“Bagaimana menciptakan ruang bersama agar suara kelompok paling terdampak oleh tatanan algoritmik dan dunia AI dapat didengar terlebih dahulu,” katanya.
Selain itu, Paus Leo XIV juga dinilai mengingatkan bahaya ketika teknologi mulai menggantikan nilai-nilai kemanusiaan dan mendorong masyarakat memandang efisiensi ekonomi sebagai tujuan utama.
Rowlands menyebut ensiklik tersebut menawarkan visi “peradaban kasih” sebagai tandingan terhadap budaya dominasi, kekuasaan, dan eksploitasi yang dapat muncul dalam perkembangan teknologi modern.
Dokumen itu juga menekankan pentingnya membangun sistem ekonomi dan teknologi yang tetap berorientasi pada partisipasi sosial, keadilan, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Di tengah perlombaan investasi AI global yang terus meningkat, pesan Vatikan tersebut dipandang relevan bagi pemerintah, pelaku industri teknologi, hingga investor dalam menyusun arah pengembangan ekonomi digital ke depan.

