Jakarta (tutur.co.id) – Ahli psikologi forensik Reza Indragiri menyoroti kinerja tiga institusi penegak hukum yang punya kuasa menangani karus korupsi di Indonesia. Menurutnya, dari ketiganya yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung dan Kepolisian, institusi terakhir yang dianggapnya ‘tidak bekerja’ alias nganggur.
Kesimpulan ini didapat Reza Indragiri bukan tanpa dasar. Ia mengaku mencoba mencari tahu kinerja Kepolisian lewat sepak terjang Kortastipidkor Polri menyusul hebohnya penetapan tersangka Jampidsus Febrie Adriansyah yang hingga saat ini menyita perhatian publik. Termasuk dengan munculnya persepsi persaingan dari ketiga institusi tersebut.
“Bicara tentang rivalitas atau bahkan gesekan antarlembaga penegak hukum itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di sekian banyak negara, termasuk Amerika sekalipun yang acap kali dipandang sebagai negara maju pun terjadi gesekan semacam itu,” kata Reza Indragiri dalam acara podcast Bang Don Zuper Opini.
“Bagi saya seandainya memang ada gesekan antara Polri dengan Kejaksaan Agung, itu tidak jadi soal karena ini sebuah keniscayaan yang sifatnya universal. Tapi yang jadi pertanyaan adalah mari kita cek masing-masing portofolionya bagaimana,” tambah Reza.
Menurut Reza Indragiri, ada ketimpangan yang mencolok terkait peran ketiga institusi itu dalam penanganan kasus korupsi. Saat KPK dan Kejaksaan Agung, lanjut Reza, sibuk bersaing mengungkap kasus korupsi, Kepolisian lewat Kortastipidkor justru tampak adem ayem saja.
“KPK hampir tiap pekan, hampir tiap bulan mengumumkan ke publik, “Kami OTT di Kabupaten sana, kami OTT di BUMN sana, OTT di Kementerian sana.” Kejaksaan Agung begitu juga, “Kami mengembalikan uang negara sekian triliun,” dan seterusnya. Dua lembaga penegak hukum ini kejar-kejaran ibarat persaingan antara Argentina lawan Prancis gitu ya. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan. Pertanyaan saya, dalam hiruk-pikuk persaingan ketat antara KPK dengan Kejaksaan Agung dalam pemberantasan korupsi, seberapa aktif Polri muncul?” beber Reza Indragiri.
Dan saat menelusuri rekam jejak Kepolisian dalam memberantas korupsi, Reza Indragiri menemukan fakta yang menurutnya sangat mengagetkan. Ternyata tak banyak kasus korupsi yang ditangani kepolisian. Paling tidak itu yang tersaji dari penelusuran Reza di website resmi Tipidkor Polri, Satu Data dan Pusiknas (Pusat Statistik Nasional) Mabes Polri. Bahkan Reza menyebutnya tidak ada, nihil, kosong melompong dan hampa.
“Jadi yang saya katakan, maaf ini, kerja Kortastipidkor Mabes Polri yang awalnya sungguh-sungguh saya apresiasi dua jempol tidak terbantahkan, saya mulai khawatir ini adalah kerja ujug-ujug, kerja yang tidak cermat, kerja yang tidak hati-hati, kerja yang tampaknya sekali lagi, izinkan saya untuk membangun prasangka, tidak sungguh-sungguh menempatkan penegakan hukum atau pemberantasan korupsi sebagai prioritas utamanya,” ujarnya.

