Oslo (tutur.co.id) – Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik Iran memicu perubahan besar di pasar otomotif Eropa. Dalam waktu singkat, minat terhadap mobil listrik meningkat drastis di berbagai negara. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana krisis energi dapat mempercepat transisi menuju kendaraan ramah lingkungan.
Data terbaru menunjukkan sebanyak 224.000 mobil listrik baru terdaftar pada bulan Maret yang lalu. Sepanjang kuartal pertama, total penjualan mencapai 500.000 unit, naik 33,5% dibandingkan tahun lalu. Angka ini memperkuat tren pertumbuhan kendaraan listrik yang semakin agresif di kawasan Eropa.
Lonjakan ini tidak lepas dari kenaikan tajam harga bensin dan diesel dalam beberapa minggu terakhir. Banyak konsumen mulai beralih karena biaya operasional mobil listrik dinilai lebih stabil. Situasi geopolitik global kini menjadi faktor penting dalam percepatan adopsi EV.
Negara Nordik menjadi pelopor dalam elektrifikasi, dengan Norwegia mencatat angka hampir sempurna. Sebanyak 98% mobil baru yang terjual di sana merupakan kendaraan listrik. Denmark dan Finlandia juga menunjukkan penetrasi tinggi dengan angka 76% dan hampir 50%. di untuk Finlandia.
Pertumbuhan juga terlihat signifikan meski dari basis yang lebih rendah. German, Prancis, Spanyol, Italia, dan Polandia mencatat kenaikan sekitar 40% pada kuartal pertama. Bahkan Italia mengalami lonjakan 65% secara tahunan di bulan Maret, meskipun pangsa pasarnya masih relatif kecil.
Kebijakan pemerintah menjadi faktor utama pendorong adopsi, terutama di Prancis. Negara tersebut menawarkan subsidi hingga €5.700 untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan skema leasing khusus bagi pekerja dengan jarak tempuh harian tertentu. Insentif ini terbukti efektif meningkatkan aksesibilitas kendaraan listrik.
Selain itu, dampak positif juga dirasakan dari sisi ketahanan energi Eropa. Menurut E-Mobility Europe, peningkatan penggunaan EV telah mengurangi konsumsi minyak setara 2 juta barel per tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa elektrifikasi bukan hanya tren, tetapi juga solusi strategis menghadapi krisis energi global.

