Jakarta (tutur.co.id) — Center of Reform on Economics Indonesia (CORE) memperkirakan inflasi pada Maret 2026 berada di kisaran 0,6% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,5%–3,6% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal, menyampaikan bahwa inflasi tahunan tersebut cenderung menurun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,76% yoy.
Penurunan ini, menurutnya, dipengaruhi oleh low-base effect dari kebijakan diskon tarif listrik pada Januari–Februari 2025 yang sebelumnya mendorong lonjakan inflasi di awal 2026.
“Setelah periode diskon berakhir pada Februari, maka Maret terjadi lonjakan inflasi secara bulanan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Meski inflasi tahunan melandai, tekanan inflasi secara bulanan justru meningkat. Hal ini didorong oleh momentum Ramadan dan Lebaran, yang secara historis memicu kenaikan harga pangan dan biaya transportasi.
“Komponen harga pangan mengalami kenaikan, ditambah biaya transportasi yang meningkat karena musim mudik,” jelas Faisal.
Selain faktor musiman, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada awal Maret juga turut memberi tekanan tambahan terhadap inflasi. PT Pertamina Persero tercatat menaikkan harga beberapa jenis BBM di wilayah Jabodetabek.
Harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp12.300 per liter dari Rp11.800 per liter. Sementara Pertamax Green (RON 95) meningkat ke Rp12.900 per liter dari Rp12.450 per liter. Pertamax Turbo (RON 98) juga naik menjadi Rp13.100 per liter.
Di sisi lain, harga BBM jenis solar seperti Dexlite dan Pertamina Dex turut mengalami kenaikan masing-masing menjadi Rp14.200 dan Rp14.500 per liter.
Namun, pemerintah memastikan tidak akan ada kenaikan lanjutan harga BBM dalam waktu dekat. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat.
CORE menilai langkah tersebut tepat, terutama untuk melindungi kelompok rentan di tengah tekanan global akibat konflik geopolitik. Menurut Faisal, menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci dalam mempertahankan stabilitas ekonomi domestik.
“Kebijakan ini penting untuk mengurangi dampak terhadap kelompok miskin dan kelas menengah bawah, termasuk melalui penguatan bantuan sosial,” ujarnya.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis resmi data inflasi Maret 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (1/4/2026).
Dengan kombinasi faktor musiman dan kebijakan energi, inflasi diperkirakan tetap terkendali secara tahunan, meski tekanan jangka pendek masih akan terasa pada periode Lebaran.

