Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
  • Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026
  • Ini Lokasi SIM Keliling Jakarta Akhir Pekan 18 Juli 2026
  • Prancis vs Inggris: Pertandingan yang Tidak Diinginkan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Nasional»Monopoli Ekspor SDA Tak Cukup: Didik Rachbini Desak Reindustrialisasi untuk Dongkrak Pajak

Monopoli Ekspor SDA Tak Cukup: Didik Rachbini Desak Reindustrialisasi untuk Dongkrak Pajak

Nasional Adi P25 Mei 2026 / 13:26 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Prof. Didik J.Rachbini, Ekonom Senior INDEF dan Rektor Universitas Paramadina. (Foto: Dok. Universitas Paramadina)
Prof. Didik J.Rachbini, Ekonom Senior INDEF dan Rektor Universitas Paramadina. (Foto: Dok. Universitas Paramadina)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Kebijakan pemerintah mendorong monopoli ekspor sumber daya alam (SDA) kembali menjadi sorotan. Narasi besarnya jelas: mengembalikan mandat Pasal 33 UUD 1945 agar kekayaan alam memberi manfaat optimal bagi rakyat. Namun, efektivitasnya sebagai mesin penerimaan negara dinilai belum menyentuh akar persoalan struktural ekonomi Indonesia.

Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa kontribusi fiskal sektor SDA relatif terbatas. “Pajak dari sumber daya alam itu porsinya kecil, sekitar 10 persen saja. Sementara tulang punggung penerimaan justru dari industri dan perdagangan yang menyumbang sekitar separuh total pajak nasional,” ujarnya kepada Redaksi Tutur. Karena itu, menurut dia, strategi fiskal tidak bisa bertumpu pada ekstraksi komoditas semata.

Problemnya, dalam satu dekade terakhir, fondasi industri justru melemah. Deindustrialisasi berjalan bersamaan dengan menyusutnya kelas menengah—dua faktor yang mempersempit basis pajak. “Kalau struktur ekonominya seperti ini, penerimaan negara tidak akan optimal. Reindustrialisasi menjadi prasyarat agar pertumbuhan bisa menembus di atas 5 persen,” kata Didik.

Dalam konteks itu, kebijakan monopoli ekspor bisa dimaknai sebagai alat paksa untuk mendorong hilirisasi. Dunia usaha, terutama di sektor berbasis SDA, didorong mengolah komoditas di dalam negeri sebelum diekspor. “Aturan ini seharusnya mengubah perilaku pelaku usaha: bukan lagi ekspor bahan mentah, tetapi meningkatkan nilai tambah lewat proses industri di dalam negeri,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan, batas peran negara harus jelas. Pemerintah cukup mengelola ekspor komoditas mentah dan setengah jadi, bukan produk hilir. “Produk hilir tidak boleh ditarik ke dalam skema monopoli negara. Di situ justru ruang bagi industri untuk tumbuh cepat dan efisien,” kata Didik. Intervensi yang terlalu jauh berisiko mengulang stagnasi industri yang sudah terjadi.

Baca Juga  ICW Duga BGN Pinjam Bendera PT BKI Demi Muluskan Jasa Sertifikasi Halal

Dari sisi fiskal, logikanya tegas. Mengandalkan pajak dari komoditas mentah tidak akan mengangkat tax ratio secara signifikan. “Basis pajak yang besar itu ada di industri, perdagangan, dan jasa. Di situlah penerimaan negara bisa benar-benar diperbesar,” ujarnya. Dengan kata lain, hilirisasi bukan hanya strategi industri, tetapi juga strategi fiskal.

Didik juga menyoroti kerentanan di level implementasi. Menurut dia, desain kelembagaan menjadi kunci. “Masalahnya selalu di detail. Kalau desain institusinya keliru, kebijakan yang niatnya baik bisa berubah menjadi sumber rente baru,” ucapnya. Karena itu, pendekatan teknokratis dan kehati-hatian menjadi mutlak.

Meski begitu, ia melihat peluang besar jika kebijakan ini diarahkan dengan benar. Negara cukup mengambil peran pada komoditas strategis, sementara sektor swasta mengembangkan produk hilir. “Kebijakan ini harus diubah esensinya menjadi instrumen reindustrialisasi—menggeser insentif agar pelaku usaha masuk ke industri bernilai tambah tinggi,” katanya.

Pada akhirnya, tujuan kebijakan tidak boleh berhenti pada penguasaan ekspor bahan mentah. “Target akhirnya adalah mengurangi ketergantungan pada bahan mentah dan setengah jadi, lalu membangun industri yang dinamis. Dari situlah penerimaan negara akan tumbuh besar,” ujar Didik. Sebuah penegasan bahwa kunci kekuatan fiskal bukan di perut bumi, melainkan di pabrik dan rantai nilai yang dibangun di atasnya.

Badan Ekspor Batubara BUMN Ekspor Danantara headline Industrialisasi jokowi Monopoli Ekspor Prabowo Sawit tutur
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKPK Panggil ASN Ditjen Bea Cukai Semarang dan Pihak Swasta Kasus Suap Blueray
Next Article Inilah Jenderal Ahmad Vahidi, Sosok di Balik Alotnya Negosiasi AS-Iran

Berita Lainnya

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026

18 Juli 2026 / 09:19 WIB

Ini Lokasi SIM Keliling Jakarta Akhir Pekan 18 Juli 2026

18 Juli 2026 / 08:57 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB

Alasan Polri Tetapkan Febrie Tersangka Meski Belum Diperiksa

17 Juli 2026 / 21:26 WIB

Gunakan Rompi Pink, Don Ritto Ditahan Kejagung Kasus Dugaan TPPU

17 Juli 2026 / 20:09 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Prabowo: Saya Ingin Melihat Nelayan Kita Tersenyum Setiap Hari

Deba Salamah10 Mei 2026 / 11:00 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026

18 Juli 2026 / 11:20 WIB

Mencari Akhir yang Manis

18 Juli 2026 / 11:00 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.