Teheran (tutur.co.id) – Kabar tahap akhir negosiasi antara Amerika Serikat dengan Iran masih simpang siur. Hal itu juga terlihat dari pernyataan tak konsisten pihak Gedung Putih dan sang presiden Donald Trump. Apa sebenarnya yang terjadi?
Seperti yang sudah ramai diberitakan sebelumnya, Trump dan Gedung Putih mengklaim proses negosiasi dengan Iran sudah masuk babak akhir untuk menempuh jalan damai. Bahkan kabarnya kesepakatan akan tercipta Senin 25 Mei 2026 ini. Namun faktanya, kabar gembira itu tak kunjung datang. Masih kabur.
Sementara itu, garis tegas telah dibuat Iran dalam proses negosiasi. Dan menurut para ahli dan pengamat Timur Tengah, ada satu sosok di balik garis tegas Iran dalam proses negosiasi ini. Bukan sang presiden Masoud Pezeshkian atau Ketua diplomasi Iran, Abbas Araghchi. Namanya Jenderal Ahmad Vahidi.
Mantan Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran ini memang punya pengaruh besar. Terutama akses langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Dialah sosok di balik sikap keras nan tegas Iran selama ini.
Jenderal Vahidi memang lama tak terlihat di depan umum selama lebih dari tiga bulan terakhir. Maklum saja, namanya memang masuk daftar incar Amerika Serikat dan Israel mengingat peran sentralnya dalam kekuasaan dan militer Iran.
Pada bulan Maret tahun ini, pria kelahiran 27 Juni 1958 ini mengambil alih peran sebagai pemimpin Garda Revolusi Iran yang membuat pengaruhnya bertambah besar.
Hambatan Utama dalam Perdamaian
Ketika Vahidi masuk dalam pemerintahan Republik Islam Iran, ia mengadopsi garis yang mungkin lebih keras soal pandangannya terhadap Presiden AS Donald Trump. Bahkan di kalangan Gedung Putih, jenderal ini disebut sebagai rintangan utama untuk perdamaian dengan Iran.
Menurut lembaga think tank ISW yang berbasis di Washington, Ahmad Vahidi dan orang-orang terdekatnya tidak hanya mengendalikan operasi militer Iran tetapi juga kebijakan negosiasi negara tersebut. Sebuah sumber yang memiliki wawasan tentang mediasi mengatakan peran negosiasi Vahidi menjadi semakin penting setelah putaran pembicaraan di Pakistan pada bulan April antara kedua pihak tidak menghasilkan apa pun.
Perlawanan Tanpa Batas
Strategi Iran untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup, dengan memutus akses pasar dunia terhadap bahan bakar fosil dari Teluk Persia, telah berkontribusi pada krisis energi global yang dikhawatirkan sejak awal perang.
Selain itu, serangan Iran terhadap fasilitas minyak, hotel, dan infrastruktur di negara-negara Arab tetangga telah memicu ketidakstabilan di seluruh wilayah kawasan tersebut.
“Jenderal Vahidi punya pendirian revolusi tanpa akhir, perlawanan tanpa akhir. Dan ia percaya bahwa Amerika Serikat harus selalu diperangi,” kata pakar Iran Kenneth Katzman dari lembaga think tank Soufan.
Sebagai catatan, sejak 2007, Vahidi dicari oleh Interpol dengan dalih tuduhan mempunyai peran penting dalam aksi pemboman teroris terhadap pusat Yahudi di Argentina pada tahun 1994, di mana 85 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.

