Teheran (Tutur.co.id) – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengumumkan langkah baru dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel saat bertemu dengan komandan Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan pascakonflik bersenjata antara Iran dengan AS dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, Abdollahi melaporkan kondisi terbaru angkatan bersenjata Iran kepada Mojtaba Khamenei, termasuk kesiapan pertahanan dan strategi militer yang disiapkan untuk menghadapi ancaman dari AS dan Israel.
“Militer Iran memiliki kesiapan pertahanan dan serangan luar biasa,” demikian laporan yang disampaikan Abdollahi dalam pertemuan tersebut.
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa Iran telah menyiapkan rencana strategis, persenjataan, dan perlengkapan militer yang diperlukan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi konflik lebih lanjut. Abdollahi menegaskan angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons cepat terhadap setiap bentuk serangan.
“Respons militer Iran akan cepat dan kuat terhadap setiap agresi musuh,” kata Abdollahi seperti dikutip media pemerintah Iran.
Pernyataan tersebut menjadi laporan resmi pertama mengenai pertemuan antara Mojtaba Khamenei dan jajaran militer sejak ia ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara pada Februari lalu.
Konflik Iran dengan AS dan Israel meningkat sejak 28 Februari 2026 ketika Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer Iran. Ketegangan sempat mereda setelah kedua pihak mengumumkan gencatan senjata pada 7 April dan melanjutkan dialog melalui mediasi Pakistan di Islamabad. Namun, perundingan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Setelah itu, Amerika Serikat dilaporkan memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran beberapa kali memperingatkan akan membuka “medan pertempuran baru” apabila kembali mendapat serangan militer dari AS maupun Israel.
Situasi tersebut membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam tekanan geopolitik yang tinggi. Sejumlah mediator internasional hingga kini masih berupaya membuka kembali jalur diplomasi untuk mencegah konflik meluas.

