Jakarta (tutur.co.id) — Cadangan devisa Indonesia kembali menyusut pada April 2026 di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa turun menjadi US$146,2 miliar dari sebelumnya US$148,2 miliar pada Maret 2026.
Ekonom Syafruddin Karimi menilai penurunan tersebut masih dalam batas terkendali, namun mulai mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap stabilitas eksternal nasional.
Menurutnya, faktor yang paling perlu diwaspadai bukan sekadar pembayaran utang luar negeri pemerintah yang bersifat rutin, melainkan kebutuhan intervensi berulang untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Pembayaran utang pemerintah masih bisa direncanakan dalam kalender fiskal dan manajemen kas negara. Sementara intervensi rupiah jauh lebih sensitif karena bergantung pada tekanan pasar yang bergerak cepat,” ujar Syafruddin, Minggu (10/5/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah yang berlanjut akan memaksa BI memasok dolar AS ke pasar guna meredam volatilitas. Kondisi tersebut berpotensi menggerus cadangan devisa apabila dilakukan secara terus-menerus.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Jumat (8/5/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp17.375 per dolar AS. Menurut Syafruddin, posisi tersebut menunjukkan pasar belum sepenuhnya yakin tekanan terhadap rupiah akan segera mereda.
“Jika intervensi makin sering, pasar bisa mulai mempertanyakan seberapa besar cadangan devisa yang siap digunakan untuk menjaga rupiah,” katanya.
Ia menilai intervensi BI tetap efektif untuk meredam volatilitas dan mencegah depresiasi berlebihan (overshooting). Langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas pasar saham, obligasi, inflasi impor, hingga ekspektasi publik.
Namun demikian, efektivitas intervensi dinilai terbatas apabila tekanan berasal dari faktor struktural global, seperti penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, arus modal keluar, maupun kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.
Karena itu, Syafruddin menekankan BI tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas rupiah dan cadangan devisa.
“Intervensi perlu dibarengi disiplin fiskal, pengelolaan penerbitan SBN, penguatan devisa hasil ekspor, serta komunikasi kebijakan yang konsisten,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan penurunan cadangan devisa dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa, penerbitan global bond pemerintah, pembayaran utang luar negeri, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Meski menurun, BI menilai posisi cadangan devisa masih memadai untuk menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Posisi cadangan devisa akhir April 2026 setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Ke depan, BI memandang ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga seiring masih adanya aliran masuk modal asing dan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional.
“Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujar Ramdan.

