Teheran (tutur.co.id) – Pernyataan juru bicara parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang menyatakan Iran punya ‘kartu baru’ jika memang negaranya harus kembali perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Kontan kosa kata ‘kartu baru’ dari Ghalibaf ini langsung membuat dunia bertanya. Apa itu?
Konflik di Timur Tengah diprediksi akan kembali pecah setelah batas gencatan senjata akan berakhir kurang dari 24 jam lagi. Tak hanya itu, negosiasi jilid 2 yang kembali digelar di Islamabad Pakistan rupanya juga tak mendapat sambutan dari Iran. Teheran menganggap Washington tak sungguh-sungguh untuk berdamai.
“Kami tidak terima negosiasi di bawah bayang-bayang tekanan dan dalam dua pekan ini, kami telah menyiapkan kartu baru dalam medan pertempuran,” kata Ghalibaf dilansir dari independent, Selasa 21 April 2026.
Namun apa yang dimaksud dengan ‘kartu baru’ yang dimaksud Ghalibaf ini? Nah, dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa kemungkinan terkait dengan kartu yang dimaksud sang negosiator ulung Iran tersebut.
Menutup Selat Bab el-Mandeb
Ini menjadi kemungkinan pertama yang dimaksud dengan ‘kartu baru’ dari Iran. Bukan rahasia lagi, Iran tentu punya kemampuan untuk menutup selat yang memisahkan Benua Asia dengan Benua Afrika ini.
Selat berjuluk Gerbang Air Mata ini punya peran vital laiaknya Selat Hormuz karena menghubungkan Laut Merah dengan samudra Hindia. Iran cukup memerintahkan Houthi, proksi Iran di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb. Dengan kata lain, jalur perdagangan dunia akan semakin sempit dengan penutupan selat ini.
Serangan Siber
Kemungkinan kedua dari maksud ‘kartu baru’ Teheran adalah serangan siber. Lembaga Keamanan Iran memang beberapa kali telah memperingatkan ancaman serangan siber lewat tangan kelompok-kelompok proksi yang berafiliasi dengan Iran, terutama di sekitar fasilitas air dan energi.
“Serangan siber terhadap sistem air minum dan air limbah secara langsung mengancam kesehatan masyarakat dan ketahanan komunitas. Satu serangan saja dapat mengganggu pengolahan atau memasukkan kontaminan, merusak peralatan, dan mengikis kepercayaan publik,” kata Jeffrey Hall, seorang administrator di Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), dalam sebuah pernyataan.
FBI, Badan Keamanan Nasional, Komando Siber AS, Departemen Energi AS, dan Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur, semuanya juga mendukung peringatan tersebut.
Menariknya, Iran sebelumnya telah dituduh melakukan beberapa serangan siber, termasuk pemadaman listrik besar-besaran di Turki pada 2015. Teheran juga dituduh melakukan beberapa kemungkinan pelanggaran terhadap situs web pemerintah Israel pada 2022. Pada 2023, AS menuduh sebuah kelompok yang berafiliasi dengan Iran telah meretas setidaknya 75 perangkat di beberapa sektor.
Serangan Politis
Kemungkinan ketiga dari ‘kartu baru’ Iran adalah dengan mengincar target-target politis untuk membalas kematian Ayatollah Ali Khamenei dan puluhan petinggi Iran. Besar kemungkinan dengan menyasar misi diplomatik, konsuler atau perdagangan milik Amerika dan sekutunya.
Kelompok tersebut mungkin juga mempertimbangkan untuk melakukan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting yang terkait dengan AS dan sekutunya.
Serangan Baru Infrastruktur Energi di Teluk
Kemungkinan keempat atau yang terakhr, Iran akan melanjutkan serangannya terhadap lokasi-lokasi infrastruktur energi di seluruh Teluk tanpa pandang bulu demi untuk memberikan kerusakan ekonomi yang lebih parah.
Menurut Atlantic Council, sekitar 83 persen dari total serangan rudal dan drone Iran selama perang menargetkan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), khususnya Uni Emirat Arab (UEA). Serangan Iran sebelumnya telah merusak infrastruktur energi senilai hingga $58 miliar (£43 miliar).

