Jakarta (tutur.co.id) – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti membuka Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia tahun 2026 di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (2/1).
Tiga bursa perdagangan berjangka komoditi dibuka secara serentak, yaitu Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (BKDI), dan Indobursa Kharisma Berjangka (IKB).
Wamendag Roro menekankan pentingnya kerja sama dan konsistensi semua pihak agar kontribusi sektor perdagangan berjangka komoditi (PBK) bagi perekonomian Indonesia makin optimal dan bersinar.
“Kerja sama dan konsistensi seluruh pihak tetap dibutuhkan agar industri PBK kian bersinar. Berbagaimanfaat industri PBK bagi penguatan perdagangan sektor komoditas di Indonesia harus dioptimalkan implementasinya. Untuk itu, komoditas unggulan yang saat ini belum masuk di bursa berjangka harus mulai dipetakan untuk mendapat manfaat pembentukan harga dan harga acuan serta manfaat lindung nilai (hedging),” tutur Roro.
Wamendag menyatakan, salah satu manfaat dan peran dari PBK adalah mengoptimalkan tata niaga dan ekosistem perdagangan komoditas melalui mekanisme pembentukan harga acuan. Selain itu, PBK bermanfaat untuk lindungi nilai yang memastikan adanya harga terbaik bagi pelaku usaha.
Perdagangan Renewable Energy Certificate (REC) melalui mekanisme PBK juga merupakan bentuk inovasi dalam sektor perdagangan. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam perdagangan hijau.
Wamendag mengapresiasi seluruh upaya literasi dan edukasi yang telah diselenggarakan seluruh pemangku kepentingan PBK. Ke depan, literasi dan edukasi ini perlu dijaga konsistensinya dan ditingkatkan intensitasnya untuk menjamin perlindungan nasabah yang bermuara pada meningkatnya kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya menyampaikan, pembukaan menyimbolkan semangat baru dan momentum baik untuk bersama-sama memulai langkah dalam mengakselerasi pertumbuhan industri PBK di Indonesia pada 2026.
“Pada 2026 ini, Bappebti beserta seluruh pemangku kepentingan PBK memiliki semangat baru yang mampu memantik perkembangan industri PBK ke arah yang lebih baik lagi di tahun ini,” ujar Tirta.
Sepanjang Januari hingga November 2025, tercatat nilai transaksi (notional value) PBK secara keseluruhan sebesar Rp42.867 triliun atau tumbuh sebesar 49,8 persen dibandingkan tahun 2024. Volume transaksi PBK tercatat 14,56 juta lot atau tumbuh 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

