Jakarta (tutur.co.id)- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat. Melalui inovasi Geothermal Dry House di Area Kamojang, panas bumi dimanfaatkan untuk mempercepat proses pengeringan kopi Arabika sehingga lebih efisien dan berkualitas.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan Kamojang memiliki sejarah penting sebagai lokasi penemuan potensi panas bumi Indonesia sekitar satu abad lalu. Menurutnya, pengembangan panas bumi kini tidak hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Teknologi Geothermal Dry House mempersingkat proses pengeringan kopi dari 30–45 hari menjadi hanya 3–10 hari dengan efisiensi hingga 300 persen. Inovasi ini membantu meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas biji kopi, sekaligus menekan biaya operasional.
Saat ini PGE bermitra dengan tiga kelompok tani, yakni Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi, serta memberdayakan 320 keluarga petani di Kamojang. Kopi yang dihasilkan bahkan telah diekspor ke Asia dan Eropa dengan volume mencapai 20 ton.
Corporate Secretary PGE Muhammad Taufik mengatakan pemanfaatan langsung panas bumi menjadi bukti bahwa energi terbarukan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, termasuk meningkatkan daya saing produk lokal dan kesejahteraan petani.
Selain mendukung sektor pertanian, program pemberdayaan masyarakat PGE Area Kamojang telah menjangkau sekitar 15 ribu penerima manfaat di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini menegaskan komitmen perusahaan agar pengembangan panas bumi memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

