Jakarta (tutur.co.id)- Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah meningkatnya kewaspadaan global terhadap penyakit zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Virus ini dikenal berkaitan erat dengan tikus dan hewan pengerat lainnya, serta dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan maupun ginjal.
Guru Besar dan Ahli Virologi Universitas Udayana, I Gusti Ngurah Mahardika, mengingatkan bahwa hantavirus bukan virus baru, namun memiliki potensi evolusi yang perlu diwaspadai. “Dunia mungkin belum menghadapi pandemi hantavirus hari ini, tetapi sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa banyak pandemi besar pada awalnya tampak kecil, lokal, dan tidak terlalu mengkhawatirkan,” tulisnya dalam artikel opini Hantavirus dan Bayang-Bayang Pandemi Baru.
Berikut beberapa skenario penularan hantavirus yang perlu dikenali:
1. Animal to Human, Jalur Penularan Paling Umum
Sebagian besar kasus hantavirus terjadi melalui penularan dari hewan ke manusia. Tikus menjadi reservoir utama virus ini, terutama melalui urine, feses, maupun air liur yang mencemari lingkungan.
“Penularannya terutama terjadi melalui aerosol urin, feses, atau debu yang terkontaminasi ekskreta tikus,” ujar I Gusti Ngurah Mahardika.
Penularan dapat terjadi saat seseorang membersihkan gudang, menyapu area berdebu, atau berada di lingkungan dengan populasi tikus tinggi tanpa perlindungan memadai.
Menurutnya, Indonesia memiliki kondisi yang cukup mendukung sirkulasi Seoul virus, salah satu strain hantavirus yang telah ditemukan di Indonesia. Faktor seperti urbanisasi cepat, sanitasi yang belum merata, hingga tingginya populasi tikus perkotaan menjadi perhatian tersendiri.
2. Human to Human, Penularan Antar Manusia yang Mulai Diperhatikan
Meski sebagian besar hantavirus masih berasal dari hewan, beberapa strain diketahui memiliki kemampuan menular antar manusia.
I Gusti Ngurah Mahardika menyoroti Andes virus sebagai contoh penting dalam dunia epidemiologi modern. “Andes virus menjadi perhatian besar karena terbukti mampu melakukan penularan antarmanusia,” tulisnya.
Walaupun transmisinya belum secepat influenza maupun COVID-19, kemampuan menembus hambatan biologis antarmanusia dinilai menjadi alarm penting bagi dunia kesehatan global.
3. Human Back to Animal, Saat Manusia Kembali Menginfeksi Hewan
Skenario lain yang juga diwaspadai adalah spillback, yaitu kondisi ketika manusia kembali menularkan virus kepada hewan.
“Lalu terjadi spillback, yaitu ketika manusia kembali menginfeksi hewan, membentuk reservoir baru yang kemudian terus menginfeksi manusia kembali,” jelasnya.
Jika kondisi ini terjadi, virus berpotensi membangun siklus penularan baru yang lebih sulit dikendalikan karena melibatkan interaksi dua arah antara manusia dan hewan.
4. Animal to Human Again, Siklus Penularan Berulang yang Ditakuti
Menurut I Gusti Ngurah Mahardika, skenario paling mengkhawatirkan adalah ketika terbentuk siklus penularan lengkap antara hewan dan manusia secara berulang.
“Jika siklus human-animal-human seperti ini terbentuk secara stabil, maka dunia dapat menghadapi pandemi yang jauh lebih serius dibanding COVID-19,” tulisnya.
Kekhawatiran ini muncul karena beberapa jenis hantavirus memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi dibanding COVID-19, meski saat ini penyebarannya belum seefisien virus pernapasan lain.
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman terbesar bisa datang dari sirkulasi diam-diam yang tidak terdeteksi. Gejala hantavirus kerap menyerupai leptospirosis, dengue, influenza, maupun demam biasa sehingga berpotensi luput dari diagnosis.
Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan hantavirus di masyarakat.

