Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan menguat signifikan pada perdagangan Selasa (13/1/2026), di level 8.948,30, naik 0,72% dan mencatatkan all-time high baru. Pergerakan ini didukung oleh penguatan mayoritas sektor saham serta membaiknya risk appetite pelaku pasar domestik.
Dalam perspektif teknikal jangka pendek, Kepala Riset Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mencermati adanya dinamika dua kelompok aset strategis yang mempengaruhi sentimen investor di pasar modal Indonesia:
“Secara teknikal, saham-saham sektor energi masih berada dalam fase uptrend sejak April 2025,” ujar Herditya kepada tutur.co.id. Menurut Herditya, meskipun terjadi koreksi harga beberapa emiten energi pada perdagangan kemarin, hal itu merupakan konsolidasi yang relatif sehat setelah rally yang cukup kuat, khususnya pada saham-saham konglomerasi energi. Ia melihat kecenderungan trading jangka pendek akan berlanjut pada sektor ini, di mana aksi beli masih berpeluang pada penurunan teknikal.
Momentum penguatan emiten energi didorong oleh fundamental harga komoditas energi global, yang dalam beberapa waktu terakhir mencatat tren positif turut mengangkat saham pelaku industri terkait.
Emas Dunia & Emiten Emas: Peluang Buy on Weakness
Adapun nasib emiten emas, Wicaksana menyoroti adanya pergerakan harga emas dunia yang masih berada dalam tegangan uptrend, meskipun potensi koreksi minor tetap ada.
“Untuk harga emas dunia, kami juga mencermati masih berada di fase uptrendnya, meskipun tdk menutup kemungkinan akan adanya koreksi2 minor yg terjadi, dimana kami memperkirakan harga emas dunia masih berpotensi menguat menguji 4684-4760,” tutur Herditya.
Untuk strategi perdagangan emiten emas IHSG, rekomendasi Wicaksana adalah trading buy pada saham seperti ANTM, MDKA, dan EMAS, dengan pendekatan penguatan teknikal jangka pendek ketika terjadi koreksi harga yang wajar.
Secara keseluruhan, IHSG tetap berada dalam fase bullish, namun para pelaku pasar disarankan mencermati bahwa momentum trading jangka pendek lebih dominan. Konsolidasi teknikal dapat terjadi sebagai fase normal bagi pasar yang sudah mencetak rekor penutupan tertinggi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak all time high baru pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026). IHSG menguat 0,72% dan berakhir di level 8.948,30. Penguatan indeks ditopang lonjakan sektor bahan baku yang naik 2,67%, disusul sektor industri dan properti. Sementara itu, sektor barang konsumsi non-primer menjadi penekan utama pasar setelah turun 1,85%.
Perdagangan saham kemarin berlangsung ramai dengan frekuensi 3,80 juta transaksi, volume 62,92 miliar saham, dan nilai transaksi Rp33,54 triliun.


