Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan pekan ini di tengah meningkatnya kehati-hatian investor menjelang sejumlah agenda penting global dan domestik.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada rentang resistance 6.250, pivot 6.200, dan support 6.100. Di tengah kondisi pasar yang cenderung bergerak terbatas, sejumlah saham dinilai masih memiliki peluang mencatatkan kinerja positif.
Dalam riset yang dirilis Senin (22/6/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan enam saham yang berpotensi memberikan peluang keuntungan, yakni ASII, DSSA, ISAT, HMSP, INET, dan DKFT.
Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen global masih didominasi perkembangan geopolitik Timur Tengah. Mayoritas indeks saham di kawasan Asia dan Eropa ditutup melemah pada akhir pekan lalu karena investor meragukan keberlangsungan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa bantuan ekonomi kepada Iran akan bergantung pada kepatuhan negara tersebut terhadap seluruh ketentuan perjanjian. Di sisi lain, Iran menyebut kesepakatan tersebut bersifat bersyarat dan baru akan dijalankan penuh apabila kepentingan nasional mereka tetap terlindungi.
Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi titik krusial distribusi energi global. Meski kedua negara telah sepakat mencabut blokade, Iran kembali mengancam menutup jalur tersebut karena sejumlah syarat dalam kesepakatan damai belum sepenuhnya dipenuhi.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), durable goods orders, indeks sentimen konsumen Universitas Michigan, dan survei aktivitas manufaktur regional Federal Reserve.
Indeks PCE inti diperkirakan naik 0,3% secara bulanan pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada April. Sebelumnya, Federal Reserve juga telah merevisi proyeksi inflasi PCE tahun 2026 menjadi 3,6%, sementara proyeksi inflasi inti PCE dinaikkan menjadi 3,3%.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada pengumuman MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026 waktu Indonesia. Review tersebut akan menentukan apakah Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang (emerging market) atau menghadapi perubahan klasifikasi.
Sebelumnya, MSCI telah merilis Global Market Accessibility Review 2026 yang menurunkan penilaian Indonesia pada aspek information flow dari kategori positif menjadi negatif. Menurut laporan Stockbit Investment Research, penurunan tersebut dipicu oleh kekhawatiran MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham, indikasi perdagangan terkoordinasi (coordinated trading), serta keterbatasan informasi pasar dalam bahasa Inggris.
Meski demikian, secara keseluruhan Indonesia masih termasuk salah satu pasar dengan tingkat aksesibilitas terbaik di kawasan Asia Emerging Market. Dari 18 indikator yang dinilai MSCI, Indonesia memperoleh komposisi penilaian 10 kategori “++”, enam kategori “+”, dan dua kategori “-“.
Stockbit Investment Research menilai kesenjangan kualitas pasar Indonesia dengan negara frontier market masih cukup lebar sehingga peluang Indonesia tetap bertahan di kelompok emerging market relatif besar.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia berencana menggelar pertemuan lanjutan dengan MSCI untuk mengklarifikasi sejumlah catatan dalam laporan aksesibilitas pasar tersebut. Salah satu fokus utama pembahasan adalah isu ketersediaan informasi dalam bahasa Inggris yang dinilai MSCI masih menjadi kendala bagi investor global.
Investor kini tidak hanya menunggu keputusan klasifikasi pasar Indonesia, tetapi juga mencermati apakah MSCI akan mencabut atau mempertahankan status freeze yang saat ini membatasi sejumlah penyesuaian dalam indeks saham Indonesia.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai IHSG masih memiliki peluang bergerak dalam fase konsolidasi sehat selama mampu bertahan di atas area support 6.100. Penguatan indeks dalam jangka pendek diperkirakan akan terbatas hingga muncul kepastian dari hasil review MSCI, perkembangan kebijakan global, serta arah arus modal asing ke pasar domestik.

