Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (5/6/2026) di tengah rendahnya kepercayaan investor, derasnya rumor di pasar, dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada rentang support 5.700, pivot 5.800, dan resistance 5.900. Meski sempat menunjukkan upaya pemulihan dari posisi terendah intraday, tekanan jual dinilai masih mendominasi pergerakan pasar.
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), IHSG ditutup melemah 1,7% ke level 5.839,78 setelah sempat terperosok hingga menyentuh level 5.644. Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi tajam yang terjadi sehari sebelumnya.
“Tekanan jual berlanjut dari perdagangan sehari sebelumnya akibat maraknya berbagai macam rumor di pasar domestik di tengah ketidakpastian yang tinggi serta rendahnya kepercayaan investor,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (5/6/2026).
Di pasar valuta asing, rupiah juga masih tertekan dan ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020 per dolar AS. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas aset domestik.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas mencatat indikator MACD menunjukkan pelebaran histogram negatif, sementara Stochastic RSI membentuk pola death cross yang mengindikasikan momentum pelemahan masih berlanjut.
“Meski pelemahan IHSG berkurang dari level terendah hariannya, pergerakan indeks diperkirakan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah dan menguji area support 5.700-5.800,” tulis Phintraco Sekuritas.
Di tengah sentimen pasar yang masih rapuh, terdapat katalis positif dari sisi regulasi. DPR telah mengesahkan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang memperkuat mandat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan memperluas reformasi sektor keuangan nasional.
Phintraco Sekuritas menilai implementasi UU tersebut berpotensi meningkatkan likuiditas pasar modal melalui penguatan lembaga keuangan, diversifikasi instrumen investasi, serta perluasan peran perbankan di pasar modal.
Selain itu, regulasi baru tersebut juga membuka jalan bagi Danantara untuk menerbitkan instrumen pendanaan seperti Patriot Bond dan Merah Putih Bond guna mendukung pembiayaan proyek strategis nasional.
Danantara juga disebut tengah menyiapkan penerbitan obligasi global senilai US$5 miliar. Instrumen tersebut telah memperoleh peringkat Baa dari Moody’s dengan outlook negatif.
Menurut Phintraco Sekuritas, penerbitan surat utang tersebut dapat memperdalam pasar modal domestik sekaligus memperluas sumber pendanaan jangka panjang tanpa memberikan tekanan tambahan terhadap APBN.
Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang dinilai menarik untuk dicermati investor, yakni PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Timah Tbk. (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO).
Kelima saham tersebut dinilai memiliki peluang menarik seiring tingginya sensitivitas terhadap pergerakan harga komoditas global dan potensi technical rebound apabila tekanan pasar mulai mereda.

