Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin (16/3/2026), setelah pada penutupan terakhir turun 3,05% ke level 7.137 dengan aksi jual bersih asing sekitar Rp221,84 miliar.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam tren bearish setelah menembus level support 7.200 dan membentuk pola lower low.
“Dalam jangka pendek, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area psikologis 7.100 hingga 7.000,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Senin (16/3/2026).
Tekanan pasar dinilai masih dipengaruhi sentimen global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini juga memicu kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN Indonesia.
Di sisi lain, investor juga cenderung bersikap wait and see menjelang periode libur panjang Idulfitri serta menanti keputusan kebijakan suku bunga bank sentral pekan ini.
Sementara itu, indeks utama di Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,26% ke 46.558,4, diikuti S&P 500 yang turun 0,61% ke 6.632,1 dan Nasdaq Composite yang melemah 0,93% ke 22.105,3.
Dalam kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk trading jangka pendek, yakni J Resources Asia Pasifik (PSAB), Indika Energy (INDY), dan Bukalapak (BUKA).
Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai konsumsi domestik selama periode Lebaran masih berpotensi menopang ekonomi. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 berada di kisaran 5,2% hingga 5,4%, meski risiko kenaikan harga minyak akibat konflik global diperkirakan akan lebih terasa pada kuartal II 2026.

