Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak cenderung melemah pada perdagangan Jumat (13/2/2026) seiring aksi ambil untung investor menjelang libur panjang (long weekend). Tekanan dari bursa global serta pelemahan harga komoditas turut menjadi sentimen negatif bagi pergerakan indeks.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG hari ini akan bergerak dalam rentang resistance 8.300, pivot 8.250, dan support 8.150.
Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa pada perdagangan sebelumnya, Kamis (12/2/2026), IHSG ditutup melemah 0,31% ke level 8.265,35. Koreksi ini terjadi setelah indeks mencatat reli selama tiga hari berturut-turut.
“Setelah mengalami reli selama tiga hari, IHSG ditutup melemah yang didorong oleh aksi ambil untung menjelang long weekend,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (13/2/2026).
Uji Support 8.150–8.200
Secara teknikal, IHSG dinilai masih relatif kuat karena bertahan di atas level moving average jangka pendek dan panjang, yakni MA5 dan MA200. Namun, indeks belum mampu mempertahankan posisi di atas level psikologis 8.300.
Dari indikator teknikal lainnya, histogram negatif MACD tercatat semakin menyempit, sementara Stochastic RSI bergerak menguat di area pivot. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual mulai mereda, meskipun ruang penguatan masih terbatas.
“IHSG hari ini diprediksi cenderung bergerak melemah dan menguji level 8.150–8.200, menjelang libur long weekend. Melemahnya indeks bursa global dan koreksi harga komoditas juga menjadi katalis negatif,” tulis Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah turut tertekan. Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), rupiah ditutup melemah ke level Rp16.810 per dolar AS, seiring penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Penguatan greenback tersebut dipicu ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Fokus Pasar: Sarasehan Ekonomi Presiden dan Inflasi AS
Dari domestik, pelaku pasar menantikan agenda Presiden Prabowo Subianto yang berencana menggelar sarasehan ekonomi pada Jumat (13/2/2026). Pertemuan tersebut bertujuan memberikan penjelasan komprehensif mengenai kondisi perekonomian nasional serta respons pemerintah terhadap dinamika global.
Phintraco Sekuritas menilai forum tersebut diharapkan mampu meredam kekhawatiran pasar menyusul keputusan Moody’s Ratings yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
“Pemerintah berharap pertemuan tersebut akan menjawab keresahan terkait keputusan Moody’s Ratings,” jelas Phintraco Sekuritas.
Sementara itu, dari pasar global, investor akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Januari 2026. Konsensus pasar memperkirakan inflasi AS melambat menjadi 2,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari 2,7% YoY pada Desember 2025.
Adapun inflasi inti (core inflation) diproyeksikan turun menjadi 2,5% YoY dari 2,6% YoY pada bulan sebelumnya. Data ini menjadi sorotan setelah laporan nonfarm payrolls AS menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Perkembangan inflasi AS dinilai akan menjadi penentu sentimen global, termasuk terhadap arus modal asing di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Rekomendasi Saham: SMGR hingga SMDR
Di tengah potensi pelemahan IHSG, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang dinilai berpeluang mencetak cuan dalam jangka pendek, yakni:
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)
PT Astra International Tbk (ASII)
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)
PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR)
Saham-saham tersebut dinilai memiliki prospek teknikal yang relatif menarik serta didukung sentimen sektoral masing-masing.
Dengan kombinasi sentimen domestik dan global, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati level support 8.150 sebagai area krusial. Jika level tersebut ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut. Sebaliknya, apabila IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, peluang rebound teknikal tetap terbuka setelah periode libur panjang.

