Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (25/2/2026), setelah ditutup melemah 1,37% ke level 8.280,8 pada Selasa (24/2/2026). Padahal, pada awal sesi IHSG sempat menguat hingga menyentuh 8.437 sebelum akhirnya berbalik arah mengikuti tekanan pasar.
Koreksi terdalam terjadi pada sektor energi, sementara sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang mampu bertahan di zona hijau. Pelemahan ini juga sejalan dengan tekanan eksternal yang kembali membayangi pasar keuangan global.
Di pasar valuta asing, rupiah turut melemah ke level Rp16.829 per dolar AS di pasar spot. Penguatan dolar AS dipicu ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat serta ekspektasi suku bunga AS yang masih relatif ketat. Kondisi tersebut mendorong mayoritas mata uang Asia tertekan.
Penguatan dolar juga berdampak pada harga emas yang terkoreksi dari level tertinggi tiga pekan terakhir, dipicu aksi ambil untung (profit taking).
Sinyal Teknis Melemah
Secara teknikal, analis dari Phintraco Sekuritas mencatat momentum penguatan histogram MACD mulai melemah. Selain itu, terbentuk pola Death Cross pada Stochastic RSI di area overbought, yang mengindikasikan potensi lanjutan koreksi.
IHSG juga kembali ditutup di bawah MA5 di kisaran 8.306. “Sehingga diperkirakan koreksi IHSG berpotensi berlanjut dan menguji level support di 8.200–8.250,” tulis Phintraco dalam risetnya, Selasa (24/2/2026).
Sentimen Global Masih Dominan
Dari China, bank sentral kembali mempertahankan suku bunga pinjaman atau Loan Prime Rate (LPR) untuk sembilan bulan berturut-turut pada Februari 2026, yakni LPR 1 tahun di 3% dan LPR 5 tahun di 3,5%. Keputusan ini mencerminkan upaya stabilisasi ekonomi di tengah tekanan global.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berpidato di hadapan Kongres pada Rabu (25/2/2026) untuk menyampaikan laporan tahunan dan arah kebijakan pemerintahannya. Investor menanti sinyal lanjutan terkait kebijakan fiskal maupun perdagangan.
Dari Eropa, pelaku pasar akan mencermati data GfK Consumer Confidence Jerman Maret 2026 yang diperkirakan membaik tipis ke -23,8 dari -24,1. Inflasi Euro Area Januari 2026 juga diproyeksikan melambat menjadi 1,7% secara tahunan dari 2%.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan sinyal teknikal yang melemah, pelaku pasar disarankan mencermati area support IHSG di kisaran 8.200–8.250. Untuk perdagangan jangka pendek, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham BMRI, ADHI, PTPP, BRIS, dan TLKM.

