Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) setelah ditutup menguat lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. Sentimen positif datang dari perbaikan indikator teknikal serta sejumlah data ekonomi domestik yang menunjukkan aktivitas manufaktur mulai pulih.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 6.100, pivot 6.200, dan resistance 6.300. Secara teknikal, indeks berpeluang menguji area 6.220 hingga 6.280 dalam jangka pendek.
“IHSG hari ini diprediksi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220-6.280,” tulis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, Rabu (3/6/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat 1,11% ke level 6.195,43. Menurut Phintraco, indeks berhasil bertahan di atas rata-rata pergerakan lima hari (MA5), sementara histogram negatif MACD terus menyempit dan indikator Stochastic RSI bergerak menuju area pivot yang mengindikasikan momentum penguatan masih terjaga.
Dari sisi fundamental, pelaku pasar mencermati sejumlah data ekonomi yang baru dirilis. Inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% year-on-year (YoY), meningkat dari 2,42% pada April 2026.
Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 4,94%, lebih tinggi dibandingkan 3,06% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti juga naik menjadi 2,59% dari 2,44%.
Meski demikian, inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%. Namun, Phintraco menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas apabila tekanan inflasi terus meningkat dan nilai tukar rupiah masih mengalami depresiasi.
“Jika inflasi berlanjut menguat serta rupiah masih terdepresiasi lebih lanjut, BI Rate masih berpotensi naik,” tulis Phintraco.
Selain inflasi, pasar juga merespons perbaikan aktivitas manufaktur. Indeks PMI manufaktur Indonesia kembali naik ke level 50 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026. Angka tersebut menandakan sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi.
Peningkatan aktivitas pabrik didorong oleh kenaikan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut. Namun, permintaan ekspor masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan gangguan perdagangan yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut tajam menjadi US$0,09 miliar pada April 2026 dari US$3,32 miliar pada Maret 2026. Capaian tersebut menjadi surplus bulanan terkecil sejak April 2020.
Penyusutan surplus terjadi seiring lonjakan impor sebesar 22,5% secara tahunan. Impor migas meningkat lebih dari 85%, sedangkan impor nonmigas tumbuh 14,11%. Pada saat yang sama, ekspor Indonesia tumbuh 21,98% secara tahunan, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Agustus 2022 setelah pada Maret lalu sempat mengalami kontraksi.
Menurut Phintraco, lonjakan impor migas tidak terlepas dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang mendorong nilai pembelian energi dari luar negeri.
Dalam kondisi pasar yang masih dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang layak dicermati investor, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Surya Pertiwi Tbk (SUPA), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

