Tokyo (tutur.co.id) – Honda menghadapi masa sulit setelah mencatat kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun terakhir. Produsen otomotif asal Jepang itu melaporkan rugi operasional sebesar ¥423 miliar atau sekitar US$2,68 miliar.
Kondisi ini terjadi karena investasi besar Honda di sektor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang ternyata belum memberikan hasil sesuai harapan.
Selama beberapa tahun terakhir, Honda termasuk agresif dalam mengembangkan EV demi bersaing di pasar global. Namun, pertumbuhan pasar EV ternyata tidak secepat yang diprediksi banyak produsen otomotif.
Konsumen di berbagai negara masih mempertimbangkan harga EV yang relatif mahal serta keterbatasan infrastruktur pengisian daya. Situasi tersebut membuat penjualan EV Honda belum mampu menutupi biaya investasi yang sudah dikeluarkan perusahaan.
Faktor eksternal juga ikut memperburuk kondisi Honda, terutama perubahan kebijakan di Amerika Serikat. Pemerintah AS sebelumnya memberikan insentif pajak hingga US$7.500 bagi pembeli EV baru, tetapi kebijakan itu dihentikan pada 2025.
Selain itu, tarif impor mobil dan suku cadang juga turut menekan keuntungan berbagai produsen otomotif dunia. Honda menyebut kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap penurunan profitabilitas bisnis EV mereka.
Untuk menekan biaya produksi, Honda mulai mengambil langkah efisiensi dengan membeli komponen dari China yang menawarkan harga lebih murah. Honda juga memangkas sejumlah target EV yang sebelumnya dianggap terlalu ambisius.
Bahkan, rencana pembangunan fasilitas EV dan baterai di Kanada resmi ditunda. Langkah ini menunjukkan Honda mulai lebih realistis dalam menghadapi kondisi pasar otomotif global yang berubah cepat.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengatakan perusahaan akan lebih fokus pada bisnis yang saat ini masih menghasilkan keuntungan stabil. Honda berencana memperkuat sektor sepeda motor, layanan keuangan, serta kendaraan hybrid yang dinilai masih tinggi permintaan.
Pasar Amerika Utara, Jepang, dan India juga disebut menjadi prioritas utama untuk pertumbuhan bisnis Honda ke depan. Strategi tersebut dianggap lebih aman dibanding memaksakan ekspansi besar-besaran di sektor EV.
Honda juga resmi membatalkan target sebelumnya yang ingin menjadikan mobil listrik sebagai seperlima dari total penjualan kendaraan baru pada 2030. Selain itu, target seluruh kendaraan Honda menjadi EV pada 2040 kini ikut dicoret dari rencana perusahaan.
Keputusan ini menjadi sinyal bahwa transisi menuju kendaraan listrik tidak semudah yang dibayangkan banyak produsen otomotif. Perubahan tren pasar yang sangat cepat membuat perusahaan besar seperti Honda harus beradaptasi secara lebih fleksibel.
Analis pasar menilai kondisi yang dialami Honda sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Banyak produsen otomotif lama dianggap terlalu percaya diri bahwa konsumen akan segera beralih penuh ke kendaraan listrik.
Di sisi lain, persaingan dari produsen China, kondisi ekonomi global, hingga ketidakpastian politik membuat pasar EV semakin sulit diprediksi. Meski begitu, Honda diyakini masih memiliki peluang bangkit karena bisnis motor dan kendaraan hybrid mereka tetap kuat di berbagai negara.

