Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/2/2026) waktu setempat, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor global di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot melesat 1,93% ke level US$ 5.056,66 per ons troi, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup menguat 2% ke US$ 5.079,40 per ons troi. Kenaikan ini menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak makroekonomi global.
Penguatan emas berjalan seiring dengan pelemahan dolar AS yang turun 0,8% ke posisi terendah dalam lebih dari sepekan. Melemahnya greenback membuat emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, menjadi lebih murah bagi pembeli di luar AS, sehingga mendorong permintaan.
“Katalis utama pergerakan harga emas hari ini adalah dolar AS,” ujar Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek. Ia menambahkan, pasar mulai mengantisipasi pelemahan data ekonomi AS, khususnya dari sektor tenaga kerja, yang dapat membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Menanti Arah The Fed
Fokus investor kini tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting AS pekan ini, mulai dari nonfarm payrolls, inflasi konsumen, hingga klaim awal pengangguran. Data-data tersebut akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Pasar saat ini memperhitungkan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga, masing-masing sebesar 25 basis poin, sepanjang 2026. Dalam lingkungan suku bunga yang lebih rendah, emas cenderung diuntungkan karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi semakin kecil.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, pertumbuhan tenaga kerja nonpertanian AS pada Januari diperkirakan hanya mencapai 70.000 orang, angka yang mencerminkan perlambatan ekonomi dan memperkuat spekulasi pelonggaran moneter.
Bank Sentral China Jadi Penopang
Dari sisi fundamental jangka panjang, permintaan emas global tetap solid. People’s Bank of China (PBOC) kembali menambah cadangan emasnya pada Januari 2026, menandai pembelian yang berlangsung selama 15 bulan berturut-turut.
“Permintaan yang konsisten dari bank sentral, dengan China sebagai episentrum, telah menjadi faktor penopang penting sekaligus indikator arah pasar,” ujar Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif B2PRIME Group, Eugenia Mykuliak. Menurutnya, pembelian berkelanjutan oleh otoritas moneter global membentuk batas bawah struktural bagi harga emas dunia.
Fenomena ini juga mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa dan pengurangan ketergantungan pada dolar AS, sebuah strategi yang semakin relevan di tengah fragmentasi ekonomi global.
Perak hingga Platinum Ikut Menguat
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot melonjak 6,93% ke US$ 83,23 per ons, setelah pada sesi sebelumnya naik hampir 10%. Logam mulia ini bahkan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 121,64 per ons pada 29 Januari lalu.
Melek menjelaskan, harga perak bertahan di level tinggi karena defisit pasokan yang besar. Dalam kondisi ini, kenaikan permintaan sekecil apa pun berpotensi memperparah kelangkaan, menggerus stok, dan memicu volatilitas harga yang lebih tinggi.
Sementara itu, harga platinum spot naik 1,33% ke US$ 2.130,77 per ons, dan palladium menguat 1,85% ke US$ 1.736,52 per ons.
Antara Peluang dan Kehati-hatian
Lonjakan harga emas dan logam mulia lainnya memberi peluang bagi investor, namun juga menuntut kehati-hatian. Volatilitas yang tinggi, dipicu ketidakpastian data ekonomi dan arah kebijakan The Fed, berpotensi membuat pasar bergerak cepat dan tajam.
Bagi investor ritel, penguatan emas menjadi pengingat pentingnya strategi diversifikasi portofolio, bukan sekadar mengejar momentum jangka pendek. Di tengah dunia yang semakin rapuh oleh ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi, emas kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai simbol kepercayaan di saat pasar ragu.

