Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
  • Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Health»Hantavirus dan Bayang-Bayang Pandemi Baru

Hantavirus dan Bayang-Bayang Pandemi Baru

Health Toto Pribadi11 Mei 2026 / 17:36 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Skenario penularan Hantavirus (Foto: Tutur/GN Mahardika)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Hantavirus dan Bayang-Bayang Pandemi Baru

Oleh: Prof. Dr. I Gusti Ngurah Mahardika/Gru Besar dan Ahli Virologi Universitas Udayana

Dunia modern hidup dalam paradoks yang unik. Semakin maju teknologi manusia, semakin besar pula peluang munculnya penyakit baru yang berasal dari alam. Pandemi COVID-19 telah mengubah cara dunia memandang zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Setelah COVID-19, perhatian global tidak lagi hanya tertuju pada influenza atau coronavirus, tetapi juga pada kelompok virus lain yang selama puluhan tahun sebenarnya telah hidup diam-diam di sekitar manusia. Salah satunya adalah hantavirus.

Hantavirus bukan virus baru. Virus ini telah dikenal sejak lama sebagai penyakit yang berhubungan erat dengan tikus dan hewan pengerat lainnya. Penularannya terutama terjadi melalui aerosol urin, feses, atau debu yang terkontaminasi ekskreta tikus. Namun yang membuat hantavirus kembali menjadi perhatian dunia bukan sekadar keberadaannya, melainkan potensi evolusinya di masa depan. Dunia mulai menyadari bahwa banyak pandemi besar lahir dari virus yang pada awalnya dianggap “terbatas” dan “lokal”.

Skenario penularan Hantavirus (Foto: Tutur/GN Mahardika)

Indonesia sendiri sebenarnya sudah tidak berada di luar peta hantavirus. Kasus hantavirus telah terkonfirmasi di Indonesia, terutama oleh strain Seoul virus. Dibandingkan Andes virus di Amerika Selatan atau Sin Nombre virus di Amerika Utara, Seoul virus memang memiliki tingkat kematian yang lebih rendah. Jika beberapa strain hantavirus lain dapat memiliki case fatality rate hingga tiga puluh sampai lima puluh persen, Seoul virus umumnya berada pada kisaran satu sampai dua persen. Angka ini memang tampak jauh lebih rendah, tetapi rendah bukan berarti aman.

Justru Seoul virus memiliki karakteristik epidemiologis yang sangat relevan bagi Indonesia. Reservoir utamanya adalah tikus perkotaan, hewan yang hidup sangat dekat dengan manusia. Virus ini tidak hidup jauh di pedalaman atau pegunungan terpencil. Ia hidup di pasar, pelabuhan, gudang pangan, saluran drainase, kawasan padat penduduk, dan lingkungan urban yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki kondisi ekologis yang hampir ideal bagi sirkulasi Seoul virus. Iklim tropis, urbanisasi cepat, sanitasi yang belum merata, serta populasi tikus perkotaan yang sangat besar menciptakan lingkungan yang memungkinkan virus ini beredar secara diam-diam tanpa banyak terdeteksi.

Baca Juga  Kolesterol Tinggi? Coba Jus Buah dan Sayur Ini untuk Menurunkannya

Saat ini, sebagian besar hantavirus masih ditularkan dari hewan ke manusia. Selama pola penularan ini tetap dominan, risiko pandemi global memang masih relatif kecil. Wabah biasanya bersifat sporadis dan lokal, tergantung pada kontak manusia dengan reservoir hewan. Namun kekhawatiran ilmiah terbesar sebenarnya bukan berada pada kondisi saat ini, melainkan pada kemungkinan evolusi biologis di masa depan.

Dunia sudah memiliki satu contoh penting, yaitu Andes virus. Virus ini menjadi perhatian besar karena terbukti mampu melakukan penularan antarmanusia. Walaupun transmisinya belum seefisien influenza atau COVID-19, fakta bahwa hantavirus dapat menembus hambatan biologis penularan manusia merupakan sesuatu yang sangat penting dalam epidemiologi modern. Ini menunjukkan bahwa secara teoritis, strain lain juga memiliki kemungkinan untuk berevolusi menuju arah serupa.

Skenario yang paling ditakuti dunia adalah apabila suatu hantavirus berhasil membentuk siklus epidemiologis yang lengkap. Awalnya virus berpindah dari hewan ke manusia. Setelah itu virus berkembang menjadi efisien dalam penularan antarmanusia. Lalu terjadi spillback, yaitu ketika manusia kembali menginfeksi hewan, membentuk reservoir baru yang kemudian terus menginfeksi manusia kembali. Jika siklus human-animal-human seperti ini terbentuk secara stabil, maka dunia dapat menghadapi pandemi yang jauh lebih serius dibanding COVID-19.

COVID-19, walaupun menyebar luar biasa cepat, memiliki case fatality rate global yang relatif rendah, umumnya sekitar satu persen atau bahkan lebih rendah pada banyak populasi. Sebaliknya, beberapa hantavirus memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Karena itu, apabila suatu hantavirus dengan virulensi tinggi berhasil berevolusi menjadi sangat efisien dalam transmisi antarmanusia, kombinasi antara mortalitas tinggi dan penyebaran cepat dapat menghasilkan pandemi dengan dampak yang jauh lebih destruktif dibandingkan COVID-19.

Baca Juga  Dokter Keluarga: Kebijakan Nutrisi Bayi Harus Tetap Utamakan ASI Eksklusif

Kasus outbreak hantavirus pada kapal ekspedisi MV Hondius menjadi pengingat penting bahwa dunia modern sangat terhubung. Secara historis, kapal, tikus, dan epidemi selalu memiliki hubungan erat. Dalam era globalisasi, mobilitas manusia dan transportasi internasional dapat mengubah penyakit lokal menjadi perhatian global hanya dalam hitungan minggu. Bagi negara maritim seperti Indonesia, hal ini menjadi sangat relevan. Pelabuhan, kapal, gudang logistik, dan kawasan urban pesisir dapat menjadi titik interaksi kompleks antara manusia, hewan, dan virus.

Peta Distribusi 4 Strain Utama Hantavirus (Foto: Tutur/GN Mahardika)

Ancaman terbesar bagi Indonesia saat ini mungkin bukan pandemi besar yang langsung terlihat, melainkan sirkulasi diam-diam yang tidak terdeteksi. Gejala hantavirus sering menyerupai leptospirosis, dengue, influenza, atau infeksi demam biasa. Akibatnya, kemungkinan besar terdapat kasus yang tidak pernah terdiagnosis secara spesifik. Dalam epidemiologi, fase senyap seperti ini justru sering menjadi bagian paling berbahaya karena virus berkembang di bawah radar pengawasan kesehatan.

Karena itu, hantavirus seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai penyakit tikus biasa. Virus ini merupakan bagian dari ancaman zoonosis modern yang menunjukkan betapa erat hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan. Dunia mungkin belum menghadapi pandemi hantavirus hari ini, tetapi sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa banyak pandemi besar pada awalnya tampak kecil, lokal, dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Hingga suatu hari, virus tersebut berhasil menemukan cara baru untuk bertahan dan menyebar di antara manusia.

Hantavirus headline Opini penyebab hantavirus pilihan editor wabah hantavirus
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleNissan Pangkas 900 Pekerjaan di Eropa, Chery Siap Masuk!
Next Article Ketika Polusi Kendaraan Menjadi Warisan Antar Generasi

Berita Lainnya

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB

Alasan Polri Tetapkan Febrie Tersangka Meski Belum Diperiksa

17 Juli 2026 / 21:26 WIB

Gunakan Rompi Pink, Don Ritto Ditahan Kejagung Kasus Dugaan TPPU

17 Juli 2026 / 20:09 WIB

Datang ke Gedung Jampidsus, Hotman Paris Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 / 19:18 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Bezzecchi Perpanjang Kontrak Bersama Aprilia Racing

Deba Salamah03 Februari 2026 / 00:10 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026

18 Juli 2026 / 11:20 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.