Jakarta (tutur.co.id) – Nissan melakukan langkah besar dalam restrukturisasi bisnisnya di Eropa dengan memangkas sekitar 900 pekerjaan. Keputusan ini menjadi bagian dari strategi pemulihan perusahaan yang diberi nama RE:Nissan.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menghadapi perubahan pasar otomotif global yang semakin kompetitif. Meski demikian, Nissan memastikan perubahan ini tetap mempertimbangkan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Salah satu perubahan utama terjadi di pabrik Sunderland, Inggris, yang selama ini menjadi basis produksi beberapa model populer Nissan. Perusahaan akan menggabungkan dua jalur produksi menjadi satu untuk model Leaf, Juke, dan Qashqai.
Kebijakan ini dilakukan agar kapasitas produksi dapat digunakan secara lebih optimal. Nissan juga menegaskan bahwa penggabungan jalur produksi tersebut tidak akan menyebabkan pemutusan hubungan kerja di fasilitas Sunderland.
Walaupun tidak ada pengurangan pekerja di lini produksi Sunderland, sebagian kecil posisi kantor di Inggris tetap terdampak oleh efisiensi perusahaan. Secara keseluruhan, pemangkasan tenaga kerja akan tersebar di beberapa negara Eropa.
Selain itu, Nissan juga berencana menutup sebagian gudang mereka di Barcelona serta mengubah sistem distribusi kendaraan ke negara-negara Nordik. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menyederhanakan struktur bisnis perusahaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar kendaraan global mengalami tekanan akibat persaingan ketat, peralihan menuju kendaraan listrik, dan perubahan perilaku konsumen. Terlebih dengan aksi ‘brutal’ produsen mobil listrik asal Tiongkok.
Nah dengan strategi baru tersebut, Nissan berharap mampu mempertahankan profitabilitas di tengah tantangan ekonomi internasional. Perusahaan juga tengah berdiskusi dengan para pekerja terkait implementasi kebijakan tersebut.
Chery Peluang Gunakan Pabrik Nissan
Menariknya, penggabungan jalur produksi di Sunderland membuka peluang bagi produsen lain untuk memanfaatkan pabrik tersebut. Saat ini, fasilitas Sunderland masih beroperasi di bawah kapasitas maksimalnya.
Nissan disebut telah melakukan pembicaraan dengan beberapa perusahaan otomotif lain untuk mengisi ruang produksi yang tersedia. Strategi ini dinilai dapat membantu menjaga aktivitas industri otomotif di kawasan tersebut.
Salah satu perusahaan yang dikabarkan tertarik adalah Chery, produsen otomotif asal China yang menaungi merek Jaecoo dan Omoda. Chery diketahui mulai memperluas pasar mereka di Inggris sejak akhir 2024 dan penjualannya terus meningkat dengan cepat.
Bahkan, perusahaan tersebut juga tengah mempersiapkan produksi kendaraan di bekas pabrik Nissan di Barcelona. Kehadiran Chery di Eropa menjadi sinyal kuat meningkatnya dominasi produsen mobil China di pasar internasional.
Kepala Chery Inggris, Victor Zhang, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi kemungkinan membangun basis manufaktur di Inggris. Jika kerja sama dengan Nissan benar-benar terwujud, langkah ini dapat menjadi peluang baru bagi industri otomotif Inggris di tengah tekanan global.
Selain membantu memanfaatkan kapasitas pabrik yang belum optimal, kolaborasi tersebut juga dapat membuka potensi investasi baru di sektor kendaraan masa depan. Industri otomotif Eropa kini menghadapi fase transformasi besar yang dipengaruhi oleh efisiensi, elektrifikasi, dan ekspansi produsen Asia.

