Jakarta (tutur.co.id) — Kinerja keuangan Garuda Indonesia sepanjang 2025 kembali tertekan. Maskapai pelat merah ini mencatatkan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau sekitar Rp5,42 triliun, melonjak tajam dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$69,77 juta.
Tekanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan operasional yang dihadapi perseroan, terutama pada semester pertama 2025. Pada periode tersebut, jumlah armada yang belum dapat dioperasikan (unserviceable aircraft) masih cukup tinggi karena menunggu jadwal perawatan, sehingga membatasi kapasitas produksi penerbangan.
Direktur Utama Glenny Kairupan menyebut kondisi tersebut menjadi faktor utama penurunan kinerja perusahaan.
“Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025, di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance,” ujarnya.
Secara bertahap, kondisi armada mulai membaik pada paruh kedua tahun lalu. Hingga akhir 2025, jumlah pesawat yang siap terbang meningkat menjadi 99 unit, naik dari 84 unit pada pertengahan tahun. Meski demikian, masih terdapat 43 armada yang belum dapat dioperasikan dan masih dalam proses perawatan.
Keterbatasan armada tersebut berdampak langsung pada penurunan jumlah penumpang. Sepanjang 2025, Garuda Indonesia Group melayani sekitar 21,2 juta penumpang, turun 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Glenny.
Selain faktor armada, tekanan kinerja juga dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya biaya tetap. Program pemulihan armada yang belum sepenuhnya selesai turut mendorong kenaikan biaya operasional, termasuk biaya perawatan dan rantai pasok industri aviasi global yang masih menantang.
Dari sisi pendapatan, perusahaan membukukan pendapatan usaha sebesar US$3,21 miliar, turun dari US$3,41 miliar pada tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar masih berasal dari penerbangan berjadwal sebesar US$2,14 miliar, disusul penerbangan tidak berjadwal dan pendapatan lainnya.
Sementara itu, total beban usaha tercatat mencapai US$3,10 miliar. Beban operasional penerbangan menjadi komponen terbesar, diikuti biaya pemeliharaan dan perbaikan yang mencapai lebih dari US$661 juta. Beban kebandaraan serta pelayanan penumpang juga turut menyumbang tekanan terhadap struktur biaya perusahaan.
Di tengah tekanan tersebut, manajemen mulai melihat tanda-tanda pemulihan, terutama setelah adanya dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada akhir 2025. Suntikan modal ini dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap perbaikan operasional di semester kedua tahun lalu.
Ke depan, Garuda Indonesia menargetkan peningkatan kapasitas armada sebagai bagian dari strategi pemulihan. Perseroan menargetkan dapat mengoperasikan 68 pesawat Garuda dan 50 pesawat Citilink pada akhir 2026.
“Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid,” imbuh Glenny.
Dengan berbagai langkah transformasi yang tengah dijalankan, perusahaan berharap dapat keluar dari tekanan kinerja dan memasuki fase turnaround dalam beberapa tahun ke depan, meskipun tantangan industri penerbangan global masih membayangi.

