Makassar (tutur.co.id) – Tim gabungan Basarnas menemukan bagian utama pesawat yang jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan pada Minggu pagi, menandai masuknya operasi penyelamatan ke fase pencarian dan evakuasi korban. Temuan itu diperoleh sekitar pukul 08.02 WITA dalam operasi terpadu yang melibatkan unsur SAR darat dan udara.
Dalam jumpa pers tim gabungan Basarnas, petugas menyampaikan bahwa serpihan yang ditemukan diyakini merupakan bagian badan pesawat, ekor, serta sejumlah jendela pesawat. Temuan tersebut memperkuat dugaan titik utama jatuhnya pesawat berada di area pencarian yang saat ini menjadi fokus utama operasi SAR.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, M. Arif, mengatakan tim SAR menemukan serpihan pesawat pada pukul 08.02 WITA. “Serpihan jendela, ekor, dan badan pesawat ditemukan di sebelah utara, barat, dan selatan dari lokasi koordinat pencarian. Temuannya berpencar,” kata Arif dalam konferensi pers di Media Center Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Maros, Minggu (18/1).

Lokasi penemuan puing pesawat berada di sekitar koordinat 04°55’45,2” Lintang Selatan dan 119°4’52,91” Bujur Timur, kawasan pegunungan dengan kontur terjal dan vegetasi rapat. Medan yang ekstrem membuat tim SAR harus membuka jalur pencarian secara bertahap melalui darat dan udara.
Basarnas mengerahkan sekitar 1.200 personel gabungan dari berbagai unsur, termasuk TNI dan Polri. Area pencarian dibagi menjadi empat sektor untuk mempercepat penyapuan darat (esar) dan menjangkau kemungkinan lokasi korban di sekitar puing-puing pesawat.
Untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses, tim Pasgat TNI Angkatan Udara diterjunkan langsung ke puncak bukit. “Tim Pasgat TNI AU berjumlah enam orang melakukan air landed di puncak untuk menjangkau serpihan yang ditemukan,” ujar Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko.
Proses pencarian dan evakuasi korban masih berlangsung. Prioritas utama tim adalah menemukan korban sebelum melakukan pengamanan dan identifikasi lanjutan terhadap puing pesawat.
Konferensi pers tersebut menjadi yang pertama sejak pesawat dilaporkan hilang kontak, dan dihadiri para pemangku kepentingan utama. Hadir dalam kesempatan itu antara lain perwakilan Direksi Indonesia Air Transport (IAT) Capt. Edwin, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, General Manager Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Minggus ET Ganduguai, Dankodaeral VI, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
Operasi SAR skala besar digelar dengan melibatkan sekitar 1.200 personel gabungan di lokasi. Unsur yang dikerahkan antara lain Basarnas, TNI AU, TNI AD, serta berbagai tim SAR pendukung lainnya. Seluruh personel difokuskan untuk membuka jalur darat menuju lokasi puing pesawat dan mempercepat proses evakuasi.

Basarnas membagi area operasi menjadi empat titik pencarian. Pembagian sektor dilakukan untuk memperluas jangkauan penyapuan darat (search and rescue/esar) guna menemukan korban di sekitar lokasi puing maupun area sekitarnya yang sulit dijangkau.
Pesawat ATR 42-500 yang kecelakaan ini sedang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan ini mengangkut 10 orang yang terdiri tujuh crew dan tiga penumpang.
Para penumpang adalah:
1. Capt Andy Dahananto
2. SIC FO M Farhan Gunawan
3. FOO Hariadi
4. EOB Restu Adi P
5. EOB Dwi Murdiono
6. Flight attendant Florencia Lolita
7. Flight attendant Esther Aprilitas
8. Deden dari KKP
9. Ferry dari KKP
10. Yoga dari KKP

