Teheran (tutur.co.id) — Harga minyak dunia mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir pada perdagangan Selasa 21 Juli 2026 ini. Ketegangan yang meluas di Timur Tengah serta ancaman baru terhadap jalur pelayaran di Laut Merah terus membayangi pasar, memicu kekhawatiran atas terganggunya pasokan minyak global.
Minyak mentah acuan internasional, Brent, terkoreksi tipis 0,4% ke posisi US$ 88,87 per barel. Sementara itu, acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), cenderung stabil di angka US$ 82,47 per barel. Kedua harga acuan tersebut memang masih berada di kisaran level tertinggi setelah Brent sempat menembus angka US$ 90 per barel sehari sebelumnya untuk pertama kalinya dalam sebulan.
Penurunan tipis harga minyak itu terjadi setelah muncul laporan mediasi untuk menghentikan sementara pertikaian antara AS dan Iran. Seorang pejabat senior Iran menyampaikan bahwa Teheran telah menerima usulan gencatan senjata selama 10 hari. Usulan ini bertujuan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni guna mengakhiri konflik.
Meski demikian, diplomasi belum sepenuhnya meredakan pertempuran di lapangan. AS masih gencar melancarkan serangan udara selama 10 malam berturut-turut setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Teheran akan “membayar mahal” atas tewasnya tentara AS di Yordania. Iran merespons serangan tersebut dengan melancarkan aksi balasan ke wilayah Kuwait.
Ancaman Blokade Houthi dan Jalur Alternatif
Kondisi pasar kian memanas setelah pemerintah Houthi di Yaman mengumumkan larangan melintas bagi kapal-kapal yang terhubung dengan Arab Saudi. Langkah ini mengancam jalur pipa lintas negara yang digunakan Arab Saudi untuk memindahkan jutaan barel minyak mentah tanpa harus melewati Selat Hormuz.
“Ancaman blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan pada eksportir minyak utama lainnya,” ujar Tim Waterer, Analis Pasar Utama di KCM Trade.
Selat Hormuz—jalur sempit di antara Iran dan Oman—selama ini melayani sekitar seperlima dari total kebutuhan minyak dunia. Dengan terancamnya jalur alternatif melalui pipa darat ini, pasar global kini memiliki semakin sedikit pilihan cadangan jika distribusi minyak terganggu.
Kerentanan Pasokan Global
Gangguan di kawasan tersebut masih terus berlangsung. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal tanker dihantam proyektil di timur laut Limah, lepas pantai Oman, pada Selasa pagi.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai bahwa dinamika konflik ini akan terus memengaruhi pergerakan harga.
“Harga minyak sudah melonjak cukup jauh dan tentu berpotensi naik lebih tinggi lagi. Namun, dalam jangka pendek, rumor de-eskalasi dan pembicaraan damai menahan kenaikan harga untuk sementara waktu. Apakah pembicaraan damai ini akan membuahkan hasil, masih harus kita lihat,” jelas Sycamore.
Sebagai catatan, ketegangan ini menjadi salah satu gangguan pasokan minyak paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Harga Brent sempat melonjak di atas US$ 100 per barel pada bulan Maret lalu, level tertinggi sejak tahun 2022, sebelum sempat mereda dan kembali melonjak akibat serangan-serangan terbaru.

