Jakarta (tutur.co.id) – Angkutan kota atau angkot kerap dianggap sebagai penyebab utama kemacetan dengan tradisi ngetem menunggu penumpang. Namun Dinas Perhubungan Kota Bogor menegaskan bahwa angkot bukan faktor dominan penyebab kemacetan.
Pernyataan ini didasarkan pada hasil pemantauan dan penelitian di lapangan oleh Dishub Kota Bogor. Data yang diperoleh menunjukkan adanya faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap kemacetan.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor, Dody Wahyudin, mengungkapkan bahwa kontribusi angkot terhadap kepadatan hingga kemacetan relatif kecil. Ia menyebutkan bahwa kendaraan pribadi justru mendominasi arus lalu lintas di jalan.
“Itu angkutan-angkutan yang beroperasi di titik itu. Kurang lebih hanya ada 11 persen dari semua kendaraan yang ada di situ,” ujar Dody saat ditemui tutur, pekan lalu.
Lonjakan kendaraan pribadi, terutama dari luar kota, menjadi faktor utama kepadatan lalu lintas. Banyaknya wisatawan yang datang ke Kota Bogor meningkatkan volume kendaraan secara signifikan. Kondisi ini semakin terasa pada akhir pekan dan hari libur panjang.
Meski demikian, masyarakat memiliki pandangan yang berbeda terkait keberadaan angkot. Sejumlah warga menilai bahwa angkot tetap menjadi salah satu penyebab gangguan lalu lintas. Terutama saat angkot berhenti atau ngetem menunggu penumpang di sembarang tempat.
Warga mengaku bahwa praktik ngetem oleh angkot masih sering terjadi, bahkan pada jam sibuk. Hal ini membuat arus kendaraan terhambat dan memperparah kepadatan. Dampaknya dirasakan langsung oleh pengguna jalan dalam aktivitas sehari-hari. Situasi tersebut juga menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat.
Di sisi lain, Dishub tidak menampik adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pengemudi angkot. Faktor sumber daya manusia, seperti ketidakpatuhan terhadap aturan lalu lintas, menjadi salah satu penyebabnya. Oleh karena itu, pengawasan dan penegakan hukum terus dilakukan oleh pihak terkait. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan di lapangan.
Perbedaan pandangan antara pemerintah dan masyarakat ini menunjukkan adanya kesenjangan persepsi. Secara data, angkot bukan faktor utama, tetapi dampaknya tetap dirasakan oleh masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan dalam penataan transportasi di Kota Bogor. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk mengatasi permasalahan tersebut.

