Padang Pariaman (tutur.co.id)- Perubahan di Desa Sejahtera Astra Nyarai, Sumatra Barat, bermula dari langkah Ritno Kurniawan. Dulu menggantungkan hidup dari menebang kayu, kini ia menjadi penggerak ekowisata berbasis pelestarian alam.
Sebelumnya, mayoritas warga desa bekerja sebagai penebang kayu dengan penghasilan sekitar Rp100 ribu per angkut. Selain berisiko tinggi, aktivitas ini juga berdampak pada kerusakan lingkungan kawasan Bukit Barisan.
Melihat potensi alam Nyarai. Mulai dari jalur trekking, lubuk alami, hingga arung jeram—Ritno mendorong warga beralih ke sektor wisata. Pendekatan persuasif dan pendampingan perlahan membuka peluang baru.
“Dengan pendampingan, masyarakat mulai percaya diri menjadi pemandu wisata dengan penghasilan rata-rata Rp400–500 ribu per minggu,” ujar Ritno, berdasar keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur.
Transformasi ini diperkuat melalui program Desa Sejahtera Astra yang menghadirkan pelatihan, peralatan, dan pengembangan atraksi wisata. Dalam waktu singkat, warga mulai memiliki keterampilan sebagai pemandu wisata profesional.
Saat ini, sebanyak 45 pemandu arung jeram dan lebih dari 100 warga terlibat aktif dalam pengelolaan wisata. Ekonomi desa pun ikut bergerak, ditandai dengan munculnya homestay dan usaha pendukung lainnya.
Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro menyebut pengembangan ekowisata ini menjadi contoh bahwa pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Ke depan, Desa Nyarai diharapkan terus berkembang sebagai model desa wisata berkelanjutan yang memberi manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian alam.

