Jakarta (tutur.co.id) — Perjuangan buruh pada hakikatnya adalah perjuangan manusia untuk mempertahankan martabatnya. Dalam pandangan masyarakat beriman, manusia adalah gambaran dan citra Allah yang tidak boleh direndahkan oleh sistem, kekuasaan, maupun sesama manusia. Karena itu, penindasan dan eksploitasi buruh bukan sekadar pelanggaran sosial, melainkan juga penghinaan terhadap Sang Pencipta.
Realitas getir ini tidak hanya hadir dalam sejarah, tetapi juga direkam dengan kuat melalui film. Sinema menjadi medium penting untuk menghadirkan suara kaum pekerja—mengungkap ketidakadilan, sekaligus memanusiakan manusia melalui cerita yang menyentuh dan reflektif.
Sejumlah film, baik nasional maupun internasional, telah mengangkat tema perjuangan buruh dari berbagai perspektif.
Film Nasional: Suara dari Pinggiran
Film Marsinah: Cry Justice mengangkat kisah nyata Marsinah, buruh pabrik di Sidoarjo yang tewas pada 1993 setelah memperjuangkan hak rekan-rekannya. Film ini menyoroti keberanian buruh perempuan melawan ketidakadilan, sekaligus membuka luka pelanggaran HAM yang belum sepenuhnya terungkap.
Sementara itu, Sang Penari karya Ifa Isfansyah menghadirkan potret buruh tani dan rakyat kecil dalam pusaran konflik politik 1960-an. Adaptasi dari karya Ahmad Tohari ini menunjukkan bahwa “buruh” tidak hanya hadir di pabrik, tetapi juga di ladang dan desa-desa yang terpinggirkan.
Film independen Turah garapan Wicaksono Wisnu Legowo menampilkan kehidupan buruh informal di kampung miskin. Dengan visual hitam-putih, film ini menggambarkan ketimpangan sosial dan ketergantungan pada kekuasaan lokal yang kerap menindas.
Kisah lain hadir dalam Istirahatlah Kata-Kata karya Yosep Anggi Noen, yang mengisahkan pelarian Wiji Thukul. Film ini menampilkan sisi sunyi perjuangan aktivis buruh yang berhadapan dengan represi politik.
Film Internasional: Perlawanan dan Harapan
Dari luar negeri, Norma Rae menjadi salah satu film paling ikonik tentang perjuangan buruh. Diangkat dari kisah nyata, film ini menampilkan keberanian seorang pekerja pabrik tekstil dalam memperjuangkan pembentukan serikat buruh, meski harus menghadapi tekanan dan ancaman.
Film Made in Dagenham mengangkat perjuangan buruh perempuan di Inggris yang menuntut kesetaraan upah. Aksi mogok mereka menjadi tonggak penting lahirnya kebijakan upah setara di negara tersebut.
Sementara itu, F.I.S.T. menggambarkan dinamika kompleks dalam dunia serikat pekerja—antara idealisme, kekuasaan, hingga godaan korupsi. Film ini menunjukkan bahwa perjuangan buruh tidak selalu hitam-putih.
Film Roma karya Alfonso Cuarón menghadirkan perspektif berbeda, yakni dari sudut pandang pekerja rumah tangga. Sosok Cleo mencerminkan kerentanan buruh domestik yang kerap tak terlihat, namun memiliki peran vital dalam kehidupan keluarga majikan.
Refleksi: Buruh, Martabat, dan Kemanusiaan
Beragam film tersebut menunjukkan bahwa isu buruh bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga menyangkut martabat manusia. Dari pabrik hingga rumah tangga, dari desa hingga kota, buruh hadir dalam berbagai wajah—namun menghadapi tantangan yang serupa: ketidakadilan, ketimpangan, dan perjuangan untuk diakui.
Film-film ini mengingatkan bahwa perjuangan buruh adalah perjuangan universal. Ia melampaui batas negara, ideologi, dan zaman. Di dalamnya, tersimpan pesan kuat bahwa setiap manusia berhak diperlakukan secara adil, dihormati, dan dimanusiakan.

