Jakarta (tutur.co.id) — PT Danantara Asset Management (DAM) resmi mengakuisisi saham empat perusahaan manajer investasi (MI) milik BUMN sebagai bagian dari proses konsolidasi yang dijadwalkan rampung pada Agustus 2026. Langkah ini akan melahirkan salah satu perusahaan pengelola aset terbesar di Indonesia dengan total dana kelolaan (assets under management/AUM) mencapai Rp170 triliun.
Empat perusahaan yang bergabung dalam konsolidasi tersebut adalah PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BRI Manajemen Investasi (BRI MI), PT BNI Asset Management (BNI AM), dan PT PNM Investment Management (PNM IM).
Dalam skema merger, Danantara akan mempertahankan Mandiri Manajemen Investasi sebagai entitas utama. Sementara itu, BRI MI, BNI AM, dan PNM IM akan dilebur ke dalam perusahaan tersebut.
Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Hardiyanto Pilia, mengatakan konsolidasi ini menjadi langkah strategis untuk membangun institusi manajemen investasi nasional yang memiliki skala usaha, kapabilitas, dan tata kelola yang lebih kuat.
“Konsolidasi ini merupakan langkah strategis untuk membangun institusi manajemen investasi nasional yang memiliki skala, kapabilitas, dan tata kelola yang semakin kuat,” ujar Hardiyanto dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Ia optimistis perusahaan hasil merger akan meningkatkan daya saing industri manajemen investasi Indonesia sekaligus memperkuat kepercayaan investor domestik maupun global.
Pada segmen ritel, perusahaan akan mengembangkan berbagai produk investasi tematik serta memperluas akses investasi melalui jaringan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Langkah tersebut didukung oleh pertumbuhan jumlah Single Investor Identification (SID) nasional yang kini telah melampaui 20 juta investor.
Di sisi lain, pada segmen institusi, perusahaan akan memperkuat kapabilitas pengelolaan investasi melalui perluasan basis investor dan penyediaan solusi investasi yang lebih komprehensif bagi berbagai lembaga.
“Kami melihat momentum yang sangat besar di depan. Dengan basis investor ritel yang terus bertumbuh dan kepercayaan institusi yang semakin kuat, sinergi keempat entitas ini akan menjadikan perusahaan hasil konsolidasi sebagai mitra investasi pilihan bagi jutaan masyarakat Indonesia,” kata Hardiyanto.
Direktur Utama BRI Manajemen Investasi Arief Budiman menilai merger tersebut menjadi momentum penting untuk memperdalam penetrasi pasar ritel. Hingga Juni 2026, BRI MI mengelola dana sebesar Rp52,61 triliun, yang didukung basis investor ritel yang kuat.
“Penggabungan ini akan memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi yang terpercaya sekaligus mempercepat pendalaman pasar modal,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama BNI Asset Management Ari Adil mengatakan BNI AM membawa kekuatan bisnis yang seimbang antara segmen ritel dan institusi dengan AUM mencapai Rp29,59 triliun per Juni 2026.
Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat kapasitas industri pengelolaan investasi nasional melalui inovasi produk, peningkatan tata kelola, dan skala usaha yang lebih kompetitif.
Adapun Direktur Utama PNM Investment Management Ade Santoso Djajanegara menyebut pengalaman PNM IM dalam mengembangkan investasi inklusif dengan AUM sebesar Rp10,31 triliun akan melengkapi kekuatan perusahaan hasil konsolidasi.
“Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk membangun institusi manajer investasi yang tidak hanya semakin kuat secara bisnis, tetapi juga mampu memperluas manfaat ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” ujar Ade.
Dengan total dana kelolaan mencapai Rp170 triliun, perusahaan hasil merger diproyeksikan menjadi salah satu pemain terbesar di industri manajemen investasi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menarik investasi domestik maupun global.

