Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih diliputi ketidakpastian pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways dalam rentang resistance 7.100, pivot 7.000, dan support 6.900.
Tekanan terhadap indeks tak lepas dari kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,53% ke level 6.989,43, seiring lonjakan harga minyak mentah akibat konflik yang belum mereda di Timur Tengah.
Menurut Phintraco, pelaku pasar kini berada dalam posisi serba tidak pasti—di satu sisi berharap adanya deeskalasi konflik, namun di sisi lain juga mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga minyak yang lebih tinggi.
“Investor berada pada posisi yang tidak menentu di antara harapan tercapainya kesepakatan damai dan potensi eskalasi yang mendorong harga minyak terus naik,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Sentimen negatif juga datang dari koreksi sejumlah saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi yang turut menekan indeks. Selain itu, tekanan eksternal diperkuat oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan inflasi, terutama dari barang impor.
Di tengah kondisi tersebut, kebijakan pemerintah untuk menahan harga BBM subsidi hingga akhir 2026 menjadi perhatian, termasuk di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang mencermati implikasi fiskalnya.
Pemerintah menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat menopang beban subsidi, dengan asumsi harga minyak rata-rata di kisaran US$100 per barel. Namun, konsekuensi fiskalnya tidak kecil.
Phintraco mencatat, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi hingga Rp6,8 triliun. Untuk menjaga defisit tetap terkendali di kisaran 2,92% terhadap PDB, pemerintah berencana melakukan efisiensi anggaran pada sejumlah pos belanja kementerian dan lembaga.
Saat ini, pemerintah masih memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun, termasuk Rp200 triliun yang ditempatkan di perbankan sebagai cadangan darurat.
Dengan berbagai dinamika tersebut, ruang gerak IHSG dinilai masih terbatas dalam jangka pendek. Meski demikian, peluang tetap terbuka di sejumlah saham pilihan.
Phintraco merekomendasikan lima saham yang dinilai berpotensi menjadi “mesin cuan” pada perdagangan hari ini, yakni RAJA, RATU, DOOH, PSAB, dan HRTA.
Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan tetap selektif dan mencermati perkembangan global maupun kebijakan domestik yang berpotensi menjadi penggerak utama arah pasar.

