Jakarta (tutur.co.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, menegaskan agenda transisi menuju energi bersih tidak dapat dipisahkan dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, kedua agenda tersebut harus berjalan secara bersamaan agar Indonesia mampu menjaga pasokan energi tetap aman, terjangkau, sekaligus lebih ramah lingkungan.
“Sekarang masanya bukan memilih antara ketahanan energi atau transisi energi. Dua-duanya harus dilakukan secara bersamaan. Kita harus memastikan energi di Indonesia tetap secure dan resilient, tetapi di saat yang sama juga semakin bersih,” kata Dadan dalam keterangan tertulis, seperti dilansir Antara, Kamis.
Menurut Dadan, dinamika geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi dunia membuat setiap negara berlomba memperkuat kemandirian energi. Indonesia pun menghadapi tantangan serupa, terutama karena masih tingginya ketergantungan terhadap impor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
Data DEN menunjukkan konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,52 juta barel per hari. Sementara itu, produksi minyak domestik baru berada di kisaran 610 ribu barel per hari. Kesenjangan tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor energi dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Kalau kebutuhan impor mencapai sekitar satu juta barel per hari dan harga minyak berada di level US$100 per barel, artinya setiap hari kita membutuhkan sekitar US$100 juta untuk membeli minyak mentah. Ini menjadi tantangan besar bagi ketahanan energi nasional,” ujar Dadan.
Tingginya kebutuhan impor energi dinilai semakin relevan di tengah tren kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, hingga beban fiskal pemerintah.
Dadan menjelaskan sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar konsumsi BBM nasional. Saat ini jumlah sepeda motor di Indonesia telah mencapai sekitar 140 juta unit, sedangkan jumlah mobil penumpang melampaui 20 juta unit. Besarnya populasi kendaraan tersebut membuat konsumsi energi berbasis fosil tetap tinggi.
Karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan program elektrifikasi transportasi sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik.
Selain elektrifikasi, pemerintah juga mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk panas bumi yang dinilai memiliki keunggulan sebagai sumber energi yang stabil dan berkelanjutan.
Menurut Dadan, panas bumi memiliki peran strategis dalam mendukung target bauran energi nasional karena mampu menghasilkan listrik secara konsisten tanpa bergantung pada kondisi cuaca.
“Panas bumi diposisikan sebagai salah satu energi utama dalam bauran energi nasional. Keberhasilannya sudah terbukti selama puluhan tahun dan ini menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan tekanan terhadap pasar energi global, penguatan produksi energi domestik serta percepatan transisi menuju energi bersih dinilai menjadi langkah krusial untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

