Jakarta (tutur.co.id) – Saat Iduladha umat Islam di berbagai negara ramai-ramai menyembelih hewan kurban lalu membagikan kepada keluarga, tetangga, hingga masyarakat yang membutuhkan. Tradisi bagi-bagi daging kurban ini sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian penting dari perayaan Iduladha.
Namun seiring perkembangan zaman, distribusi daging kurban kini tidak lagi dilakukan secara sederhana. Beberapa negara, terutama Arab Saudi, bahkan sudah memiliki sistem modern untuk mengolah dan mengirim daging kurban ke negara-negara miskin seperti Palestina, Sudan, Pakistan, hingga berbagai wilayah di Afrika.
Tradisi Berbagi Daging Kurban Berasal dari Ajaran Islam
Tradisi membagikan daging kurban sebenarnya berasal dari ajaran Islam yang tercantum dalam Al-Qur’an. Dalam QS Al-Hajj ayat 36, umat Islam diperintahkan untuk memakan sebagian daging kurban dan memberikannya kepada orang lain, termasuk masyarakat yang membutuhkan.
Selain itu, ibadah kurban juga berawal dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang menjadi simbol keikhlasan dan pengorbanan dalam Islam. Karena itu, Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang berbagi makanan dan membantu sesama.
Dulu Daging Kurban Sering Terbuang Saat Musim Haji
Menariknya, sistem distribusi daging kurban modern ternyata muncul karena masalah besar yang pernah terjadi di Arab Saudi saat musim haji.
Menurut laporan Arab News, pada masa lalu jumlah hewan kurban saat haji sangat banyak hingga dagingnya tidak habis dikonsumsi. Sebagian daging bahkan dibiarkan menumpuk di jalanan dan menimbulkan krisis sanitasi, bau busuk, dan penyakit. Pada akhirnya pihak berwenang kemudian mengubur daging tersebut.
Karena itulah pemerintah Arab Saudi mulai membuat proyek khusus pada tahun 1983 untuk mengelola daging kurban agar tidak terbuang sia-sia. Proyek tersebut kemudian dikelola bersama Islamic Development Bank atau IsDB melalui program bernama Adahi.
Arab Saudi Punya Sistem Distribusi Daging Kurban Modern
Melalui program Adahi, daging kurban kini diproses menggunakan sistem modern. Hewan kurban disembelih sesuai syariat, lalu dagingnya dibersihkan, dibekukan, dikemas, hingga didistribusikan ke berbagai negara yang membutuhkan.
Menurut data resmi Adahi dan IsDB, surplus daging kurban dari musim haji dikirim ke lebih dari 27 negara di Asia dan Afrika. Negara penerima termasuk Palestina, Pakistan, Sudan, Niger, Chad, Djibouti, hingga Mozambik.
Dalam beberapa kasus, daging juga diolah menjadi makanan siap konsumsi atau dikalengkan agar lebih tahan lama saat dikirim ke wilayah krisis dan pengungsi. Sistem pendinginan dan pembekuan digunakan supaya kualitas daging tetap aman selama distribusi internasional.
Jutaan Orang Menerima Daging Kurban Setiap Tahun
Program distribusi ini dilakukan dalam skala sangat besar. Menurut laporan resmi Islamic Development Bank (IsDB), jutaan hewan kurban diproses setiap musim haji dan dagingnya disalurkan kepada masyarakat miskin di berbagai negara Muslim.
Tujuan utama program ini bukan hanya membantu masyarakat miskin mendapatkan makanan, tetapi juga mengurangi limbah daging yang dulu sempat menjadi masalah besar saat musim haji.
Tradisi Iduladha di Berbagai Negara Masih Sama, Berbagi
Meski setiap negara memiliki budaya berbeda, tradisi utama Iduladha tetap sama, yaitu berbagi daging kurban kepada orang lain.
Di Indonesia, pembagian daging biasanya dilakukan di masjid atau lingkungan warga secara gotong royong. Sementara di Pakistan dan Turki, banyak masyarakat menyalurkan kurban melalui lembaga amal agar distribusinya lebih merata.
Sedangkan di Arab Saudi, sistem distribusi kurban kini sudah berskala internasional dan menggunakan teknologi modern agar daging bisa menjangkau negara-negara yang sedang mengalami krisis pangan.

