Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dibuka melemah tipis pada perdagangan Senin (27/4/2026), namun masih bertahan di level Rp17.200-an. Berdasarkan data Bloomberg, kurs berada di Rp17.222 atau turun 7 poin (0,04%).
Di tengah tekanan global, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan, baik di pasar domestik (onshore) maupun luar negeri (offshore), guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menegaskan langkah tersebut krusial untuk menahan pelemahan rupiah yang lebih dalam. “Dalam situasi seperti ini, kalau tidak ada intervensi, rupiah bisa melemah lebih dalam,” ujarnya.
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga transaksi di pasar offshore. Kebijakan ini menjadi bagian dari bauran moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung ketahanan eksternal.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan komoditas global. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya inflasi global serta terganggunya rantai pasok energi dan pangan.
BI pun merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3% dari sebelumnya 3,1%, sementara inflasi global diperkirakan naik menjadi 4,2%. Dalam situasi tersebut, ruang pelonggaran kebijakan moneter global semakin terbatas.
Arah kebijakan bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve, diperkirakan tetap ketat dengan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) dan memperkuat dolar, sehingga memicu pergeseran aliran modal global ke aset Amerika.
Meski demikian, fundamental eksternal Indonesia dinilai masih cukup kuat. Neraca perdagangan tetap surplus dan cadangan devisa tercatat tinggi sebesar US$148,2 miliar pada Maret 2026, memberikan bantalan bagi stabilitas rupiah.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.229 per dolar AS, meskipun sebelumnya sempat melemah hingga menembus Rp17.304.
Ke depan, BI menegaskan akan terus mencermati dinamika global dan memperkuat respons kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.

