Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (27/1/2026) dengan penguatan terbatas sebesar 0,27 persen ke level 8.975. Meski mencatatkan kenaikan, pergerakan IHSG masih dibayangi tekanan jual yang menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar.
Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang masih tergolong wajar. Ia menyebut, tekanan jual yang muncul justru mencerminkan proses konsolidasi setelah IHSG menguat cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami mencermati koreksi yang terjadi merupakan koreksi yang sehat, mengingat IHSG sebelumnya sudah mengalami penguatan yang cukup signifikan pada pekan-pekan sebelumnya,” ujar Herditya kepada redaksi tutur.co.id, Selasa 27 Januari pagi.
Secara teknikal, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih berada pada bagian wave [iv] dari wave 5, sehingga potensi koreksi lanjutan tetap perlu diantisipasi. IHSG diproyeksikan rawan melemah ke area 8.708–8.790, dengan level support di 8.852 dan 8.816, serta resistance di kisaran 9.039 hingga 9.120.
Selain faktor teknikal, sentimen global juga masih menjadi perhatian utama investor. Herditya menjelaskan bahwa ketidakpastian global mendorong investor bersikap lebih defensif, tercermin dari berlanjutnya penguatan harga emas sebagai aset lindung nilai.
“Investor masih mencermati berbagai sentimen global dan ketidakpastian yang menyertainya, sehingga mendorong aliran dana ke aset aman seperti emas yang harganya terus menguat,” jelasnya.
Dari sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Greenland disebut telah mereda. Namun, pasar kini menghadapi risiko baru dari potensi government shutdown di Amerika Serikat yang diperkirakan terjadi pada akhir bulan ini. Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada agenda FOMC Meeting, yang akan menentukan arah suku bunga acuan The Fed serta kebijakan moneter ke depan.
Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, MNC Sekuritas menyarankan investor untuk tetap selektif dan disiplin dalam pengelolaan portofolio. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati antara lain AKRA, BRIS, GOTO, dan JSMR.

