Surabaya (tutur.co.id) – Ancaman penyakit zoonosis kembali menjadi sorotan setelah temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap keberadaan material genetik virus Nipah pada kelelawar di sejumlah wilayah Indonesia. Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia, para ahli mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini.
Ahli Biostatistika Epidemiologi sekaligus Dosen Luar Biasa Universitas Airlangga (UNAIR), Windhu Purnomo, menjelaskan bahwa secara epidemiologis Indonesia masih dalam status tanpa kasus manusia. Pemerintah pun belum pernah mengumumkan adanya infeksi virus Nipah pada warga.
Namun demikian, keberadaan virus pada hewan reservoir menunjukkan potensi risiko yang perlu diantisipasi melalui langkah pencegahan dan penguatan sistem surveilans kesehatan.
Ditemukan pada Kelelawar Buah
Menurut Windhu, surveilans nasional periode 2023–2024 menemukan RNA virus Nipah pada empat dari 305 sampel kelelawar buah (codot) yang diperiksa. Temuan ini menegaskan bahwa virus tersebut telah beredar di populasi satwa liar, meskipun belum terjadi transmisi ke manusia di Indonesia.
Secara historis, virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia dan kemudian menimbulkan kasus di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penyakit ini dikenal memiliki tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) yang tinggi, berkisar 45 hingga 80 persen, jauh di atas rata-rata fatalitas COVID-19.
Windhu menegaskan bahwa tingginya CFR menjadi alasan utama kewaspadaan. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Pendekatan terbaik saat ini adalah memperkuat pencegahan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh dengan asupan gizi seimbang, istirahat cukup, dan menghindari konsumsi buah yang berpotensi terkontaminasi kelelawar, terutama buah yang telah tergigit atau jatuh dari pohon.
Langkah sederhana ini dinilai efektif dalam meminimalkan risiko penularan zoonosis, termasuk potensi virus Nipah.
Gejala dan Pentingnya Deteksi Dini
Secara klinis, infeksi virus Nipah dapat diawali gejala menyerupai flu seperti demam dan gangguan pernapasan. Namun dalam kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau radang otak yang berujung pada koma hingga kematian.
Hingga saat ini belum tersedia vaksin spesifik untuk virus Nipah. Oleh karena itu, deteksi dini dan pelaporan cepat menjadi kunci utama mitigasi risiko. Fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus demam berat, infeksi saluran pernapasan akut, serta gejala neurologis seperti ensefalitis.
Dalam konteks pencegahan pandemi, Windhu juga menekankan pentingnya kontribusi perguruan tinggi. Institusi akademik berperan dalam menghasilkan bukti ilmiah melalui riset, edukasi publik, serta komunikasi risiko berbasis data.
Menurutnya, pengendalian ancaman zoonosis tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam mencegah potensi wabah di masa depan.
Dengan temuan terbaru ini, Indonesia dinilai masih dalam tahap kewaspadaan awal. Transparansi data, penguatan surveilans, serta edukasi publik menjadi langkah strategis agar ancaman virus Nipah dapat dikendalikan sejak dini. (sas)

