Jakarta (tutur.co.id) – Tahun Baru Imlek selalu datang membawa janji pembaruan. Bagi masyarakat keturunan Tionghoa—di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia—Imlek bukan sekadar penanda pergantian kalender, melainkan momentum simbolik untuk memulai hidup dengan harapan yang lebih baik. Rumah dipercantik, meja makan dipenuhi hidangan khas, dan satu hal nyaris tak pernah luput dari perhatian: busana.
Dalam tradisi Tionghoa, warna merah kerap menjadi pusat perayaan. Ia dipercaya sebagai lambang keberuntungan, sukacita, dan penolak bala. Namun di balik simbolisme itu, ada dimensi lain yang sering terlewat: pakaian yang dikenakan bukan hanya membentuk tampilan, tetapi juga mempengaruhi suasana hati, energi, bahkan cara seseorang menikmati momen kebersamaan di hari raya.
Psikologi mengenal istilah enclothed cognition, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Hajo Adam dan Adam D. Galinsky. Teori ini menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakan seseorang dapat memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan berperilaku. Dengan kata lain, busana bekerja bukan hanya di permukaan tubuh, tetapi juga di wilayah mental. Salah memilih pakaian bukan sekadar soal estetika, melainkan bisa berujung pada rasa tidak nyaman yang berlarut-larut.
Ambil contoh pakaian yang terlalu ketat. Di hari Imlek, aktivitas keluarga biasanya padat: menyambut tamu, berpindah dari satu rumah ke rumah lain, duduk lama di meja makan. Busana yang membatasi gerak akan menciptakan ketegangan fisik. Ketika tubuh merasa tertekan, otak membaca sinyal stres. Akibatnya, emosi menjadi lebih mudah tersulut dan suasana hangat yang diharapkan justru sulit dinikmati.
Hal serupa terjadi ketika bahan pakaian tidak ramah bagi tubuh. Kain yang panas dan tak menyerap keringat membuat tubuh mudah gerah. Rasa tidak nyaman itu kerap menjelma menjadi kelelahan emosional—mood menurun, kesabaran menipis, dan interaksi sosial terasa membebani.
Masalah lain yang kerap muncul adalah soal kesesuaian dengan kepribadian. Imlek memang identik dengan warna-warna dan ornamen tertentu. Namun ketika seseorang memaksakan diri mengenakan busana yang tak mencerminkan dirinya—terlalu ramai, terlalu mencolok, atau sekadar mengikuti tren—yang muncul justru kegelisahan. Perasaan “tidak menjadi diri sendiri” bisa menggerus rasa percaya diri, mengganggu fokus, dan menimbulkan kegamangan sepanjang hari.
Padahal, menjaga suasana batin di hari raya sesungguhnya bisa dimulai dari pilihan yang sederhana. Busana yang tepat dapat menjadi penopang kenyamanan sekaligus penenang emosi. Beberapa prinsip dasar patut dipertimbangkan: memilih bahan yang adem dan fleksibel, mengutamakan potongan yang memberi ruang gerak, serta memilih warna yang tetap bernuansa Imlek tanpa harus selalu merah menyala—marun lembut, emas pucat, atau peach bisa menjadi alternatif yang lebih bersahabat.
Yang tak kalah penting, pakaian sebaiknya tetap selaras dengan kepribadian. Imlek bukan ajang pamer tren, melainkan ruang kebersamaan. Ketika seseorang merasa nyaman dengan apa yang dikenakannya, rasa percaya diri tumbuh dengan sendirinya, dan suasana hati pun lebih terjaga.
Kesalahan memilih busana mungkin tampak sepele. Namun dampaknya bisa merembes hingga ke ranah psikologis. Di hari yang sarat makna seperti Imlek, tak ada salahnya memberi perhatian lebih pada apa yang melekat di tubuh. Sebab, merawat suasana batin kadang dimulai dari hal paling sederhana: pakaian yang membuat kita merasa utuh sebagai diri sendiri.

