Jakarta (tutur.co.id) – Setiap pagi kita membuka ponsel, berita longsor, banjir, cuaca ekstrem, hingga krisis iklim sudah berbaris di layar. Belum sempat bernapas, satu kabar berganti kabar lain—semuanya membawa pesan yang sama: ada ancaman, ada bahaya. Tanpa disadari, bukan hanya lingkungan yang terdampak bencana, pikiran kita pun ikut terguncang.
Maraknya berita bencana di media sosial membentuk pola kecemasan baru di masyarakat. Banyak orang merasa takut terhadap sesuatu yang belum terjadi, seolah bencana itu sudah menunggu di depan pintu. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai anticipatory anxiety—kecemasan akan peristiwa yang belum dialami secara langsung, namun terasa nyata karena ketidakpastian yang terus dipupuk.
Julie Buckner, PhD, profesor psikologi dari Louisiana State University, menjelaskan bahwa kecemasan pada dasarnya merupakan respons emosional terhadap ancaman masa depan yang dirasakan, bukan bahaya yang sedang berlangsung. Ketika berita bencana terus mengalir tanpa jeda, otak menerima sinyal bahaya berulang-ulang. Media sosial bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membawa emosi—ketakutan, kepanikan, dan rasa tidak aman—yang menular dari satu unggahan ke unggahan lain.
Lantas, bagaimana cara menjaga kestabilan mental tanpa harus menutup mata dari realitas?
Pertama, beri batasan—bukan tutup mata. Terlalu sering mengonsumsi berita bencana membuat otak berada dalam mode siaga terus-menerus. Akibatnya, muncul rasa cemas, tidak aman, dan kelelahan mental. Membatasi waktu membaca berita bukan berarti abai, melainkan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Kita tetap waspada, tanpa harus tenggelam dalam rasa was-was yang berkepanjangan.
Kedua, pilih sumber informasi yang tepercaya. Di era potongan video viral dan narasi emosional tanpa konteks, tidak semua informasi layak dipercaya. Berita dari sumber resmi dan kredibel membantu kita memahami situasi secara utuh, bukan sekadar terpancing kepanikan sesaat akibat judul bombastis atau gambar dramatis.
Ketiga, ubah kecemasan menjadi aksi nyata. Kecemasan yang dibiarkan menumpuk hanya menguras energi mental. Mengalihkannya ke tindakan konkret—seperti berdonasi, membantu korban, atau terlibat dalam aksi sosial—memberi rasa kendali dan makna. Pikiran pun merasa tidak lagi sekadar menjadi penonton ketakutan.
Keempat, sadari respons tubuh dan emosi. Jika saat membaca berita jantung berdebar, sulit fokus, atau muncul rasa gelisah berkepanjangan, berhentilah sejenak. Tubuh kerap merespons paparan berita bencana seolah kita sedang berada di lokasi kejadian. Menarik napas, menjauh sebentar dari layar, dan memberi waktu untuk rileks membantu tubuh kembali ke kondisi aman.
Di tengah arus informasi yang bergerak tanpa henti, menjaga kesehatan mental adalah soal memahami batas diri. Berita bencana memang penting untuk diketahui, tetapi seperti makanan, ia perlu dikonsumsi dengan porsi yang tepat. Dengan membatasi paparan, memilih informasi yang sehat, dan merawat respons tubuh serta emosi, kita bisa tetap waspada—tanpa kehilangan ketenangan.

